Arsip Blog

11 JANUARI

Sebelas Januari Bertemu
Menjalani Kisah Cinta Ini
Naluri Berkata Engkaulah Milikku
Bahagia Selalu Dimiliki
Bertahun Menjalani Bersamamu
Kunyatakan bahwa Engkaulah jiwaku

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Pernahku Menyakiti Hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua Karena kita ini manusia

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Kau bawa diriku
Kedalam hidupmu
Kau basuh diriku
Dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah Hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

Sesaat lagu itu berakhir, saya terkesima melihat sosok seseorang yang tengah bercengkrama di sudut ruangan dengan beberapa orang tamu…….. lagu dari GIGI diatas mengingatkan saya tentang sebuah kisah yang pernah saya rangkum bersamanya, tepat pada hari ini beberapa tahun yang lalu, saya tidak ingat tahun berapa karena saya memang tidak mau mengingatnya kembali.

11 Januari tinggal kenangan
11 Januari menoreh luka
dibalik awan membiru
ada bekas sayatan tersembunyi
menghimpun bahasa duka

tak perlu ditanya
tak perlu dipujuk
karena angin menerbangkan
segala tentang rasaku…

Kalau boleh, aku ingin menyelami bola matamu
yang menyimpan lubuk terdalam.
Di sana, pada segenap masa lalu itu
aku ingin menyemai buahnya

Meskipun tidak ada yang sungguh usai pada sebuah kisah
seperti juga tak ada yang beda suka dan luka…

Iklan

SINAR MATA TERAKHIR

IBU


Seminggu yang lalu ketika sempat kucium tangannya, kulihat mata itu masih memancarkan binar kebahagiaan.
Sinar mata yang selama ini dan mungkin setiap saat aku rindukan.
Sinar mata yang senantiasa memancarkan kasih sayang yang tulus yang tidak pernah tergantikan meskipun saya tahu bahwa dibalik semua itu beliau menahan rasa sakit yang teramat sangat akibat kanker kolorektal yang mengakrabinya selama lebih dua tahun.

Hingga pada saat menjelang subuh hari Ahad 22 Nopember 2009, dada ini rasanya tersekat disaat berita itu saya dengar. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun….

Sinar mata itu tak akan pernah berbinar lagi
Saat pelangi memainkan sajak suci di atas buramnya sebuah warna pada bening sungai di kala pekat
Dan kurasa sebuah bintang berhenti berkelip dari benderang yang dulu datang kau bawa.

Terasa nafas berhenti mendesah
kapalmu mengangkat sauh dan beranjak pergi
tinggalkan keping-keping airmata yang membasah membekas di dermaga subuh
dan sampan-sampan kepedihan jiwa yang hanyut melaut tanpa kata yang sempat terajut
Masih teringat belaian tanganmu yang penuh kasih sayang.
Masih teringat sapaan lembutmu yang penuh welas asih
Masih teringat ajaranmu yang santun disetiap langkah hidupku

Pada setiap nafas yang berhembus
Dan mengalirnya darah dalam tiap pembuluh
Jalan panjang yang telah kau tempuh
melewati rintangan demi kami anak-anakmu
Kamu terus berjalan tak kenal lelah
walau tubuh lunglai oleh umur yang kian renta

seperti udara kasih yang engkau berikan
tak mampu ku membalasnya

Saat kau pergi ibu,……
Anginpun berkata bahwa ia rasa sunyi tanpamu
Adakah sakit rasanya saat datang tamu terakhir itu ?
Apakah lagi yang ditanya saat tapak-tapak kaki menjauh dan tinggallah kelam dan hening
Adakah telah kau tatap wajah-Nya dengan kedua matamu ?
Adakah kau telah tenang dan menunggu saatnya tiba, saat nanti kita kembali jumpa
Meski mungkin kita tak lagi saling menyapa.

Titip Ibuku Ya Allah…..

PS :
Hormat kami Sekeluarga
Seti@wan Dirgant@Ra
Munir Ardi
Putri Malu


FATAMORGANA PENYESALAN

FATAMORGANAHening….
Sunyi….
Sepi…..
Hampa…..

kesenyapan bertahta menggigit hati, mencekik kebisuan
kekosongan bersimbiosis duka bersemayam dalam penantian

Desah kepenatan malam berbekas dalam wajah yang terurai
tetesan peluh kepalsuan mulai mencari titik pelampiasan

Sungguh sebuah fatamorgana yang terbungkus berjuta tanya
Bergelut dengan nafsu duniawi
Bercengkrama dengan dosa yang tak terampuni
Bercumbu dengan realitas tak bermakna

Misteri tak pernah terungkap
terpendam tak pernah berakhir
berlomba mencapai tapal batas kejenuhan
episode kehidupan yang terus berlanjut

Tuhan…..
Bukalah pintu maaf
Penyesalan hamba-Mu yang tiada bertepi.


SELAKSA RINDU BUAT IBU

Rindu Ibunda

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang salehyang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepadaanak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Adalah wajar seorang Nabipun pernah bersedih mengingat kisah penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya. Sesudah Hijrah, Nabi bercerita dihadapan sahabat-sahabatnya mengenai kisah perjalanan pertama beliau menuju Madinah dengan ibunya. Sebulan lamanya mereka tinggal di Madinah. Hingga suatu hari, Siti Aminah (ibunya) bersiap-siap akan pulang. Ia dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika sampai di Abwa’, ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan di tempat itu.

Nabi yang masih belia pada waktu itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke Mekah, beliau pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan. Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.

Sejatinya, dengan sedikit saja menyelami shirah ini kita dapat memahami bahwa bunda adalah lautan berjuta kasih, karena itu tak cukup senandung dan jutaan kata-kata mutiara memaknai kasih-sayangnya. Sampai disini saya yakin tanpa menggunakan riset sekalipun bahwa 100 % anak perantauan menjadikan ibu sebagai satu-satunya alasan mengapa mereka tetap bertahan dari gempuran hidup. Mengapa? karena kesuksesan mereka ditandai dengan ukiran senyum bahagia diwajah ibunya. Bahkan tidak jarang kita temukan seserang yang baru mendapatkan pekerjaan merelakan gaji pertamanya untuk ibunya sebagai wujud terima kasihnya kepada orang yang bersusah payah membesarkannya itu.

Tuhan tolonglah
Sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya

Bunda dengarlah,
Betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Selaksa do’a kuucapkan. Kala mengenang segala bakti. Secawan air mata kusembahkan. Di kala rindukan sentuhanmu. Ingin menangis di pangkuanmu. Kala temukan segala rintang. Ingin ku rebah dalam pelukanmu. Di kala rindukan kedamaian

Ibu. Ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah. Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, Indah… semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Duhai ibunda…
Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata makian

Duhai ibunda…
Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata-kata yang tidak berkenan hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak menganak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do’a-do’a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.

Duhai ibunda…
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu.
Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku. Indah… semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Sungguh aku sayang dan rindu Ibu… nantikan kehadiran ananda yang ingin berada di pangkuan dan pelukan Ibu …

FAJAR 1 SYAWAL 1430 H

LEBARAN BUKANLAH BUBARNYA KEBAJIKAN
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allah Mahabesar!
Gema tasbih, tahmid dan takbir memecah kesenyapan fajar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya kuasar
Tak mungkin dibandingkan dengan besarnya galaksi kembar
Dialah yang punya Arsyi tak bertepi
Dialah yang punya segala cakrawala
Segala segara
Segala cemerlang mega yang tak berlentera
Segala lintang yang tak bertiang
Segala nebula yang tak berjendela
Bahkan segala langit yang sulit diintip

Puasa usailah sebulan sudah
Tarawih lengkap, I’tikaf pun tak khilaf
Namun, muslim bersimbah asa dan tanya
“Apakah puasa saya diterima?”

Horseeeiii! Lebaran tiba!
Takbir mencibir gaun baru warna biru
yang mengetat di atas dengkul gadis bahenol.

Zakat fitrah menceria sang fakir yang ketir
di syawal pagi yang membahagia nurani

Ketupat bertumpuk di segala ufuk
Sambal goreng berselera-selera di segala cakrawala
Bolu kukus berdus-dus mencengangkan para tikus
Nasi kuning tak membikin jiwa bening
Sebab jiwa kufur masih bertengger di sanubari.

Horseeeiii! Lebaran kebacut !
Menjadi pesta poranya pikiran kusut

Para setanpun bersorak menjegal silaturrahmi
Yang lupa waktu dan tak tahu diri.

Zhuhur terlewat berkat kunjungan panjang ke rumah sobat
Azar nyasar ke magrib…
berkat bertandang di si dindun yang semakin heidun

Lantas isya diperkosa di malamnya pesta pora
Dan tegaknya shalat subuh menjadi runtuh
ketiban tubuh yang lusuh.

Mumpung Lebaran, aji mumpung kembali disanjung
Mumpung baju baru sepatu baru
Kue keju berselisih saling gurih di lidah yang semakin pedih
Mumpung kue nampang di setiap kandang
Dan si fakir yang ketiban zakat di hari lebaran kembali fakir
Melodi lama berkumandang riang
Melagukan ’sengsara badan’ dalam tone bariton
Si miskin dan si kaya kembali saling bertolak belakang

Puasa yang diharapkan mewujudkan kesederhanaan jiwa manusia,
telah diartikan lain oleh segelintir makhluk yang bermental binal
sehingga dampaknya jadi konsumtif.
Lebaran yang diharapkan mencanangkan manusia
kembali kepada fitrahnya
kembali kepada kejujurannya
kembali kepada kesuciannya
malah menjadi cikalnya mubazir.

Akhirnya sang setanpun berteriak senang
dalam kemenangan yang gemilang

Setan yang dikerangkeng oleh mental baja kita selama Ramadhan
Yang dilandasi iman yang tangguh dan ketaqwaan tiada tara
Yang diborgol oleh pengabdian tulus terhadap Allah SWT.

Semoga kita ini termasuk yang mampu mengkrangkeng setan
Berkat puasa kita yang khusu’
Yang mewangun mental baja
dalam melaksanakan amal shaleh hingga akhir hayat

Perlu dicamkan ” Lebaran bukanlah bubarnya kebajikan”