Arsip Blog

472 KASUS TERKAIT UNAS 2010

Makassar (ANTARA News) – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah menerima sebanyak 472 kasus terkait dengan Ujian Nasional (UN), kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh.

“Hingga saat ini sudah ada 472 kasus terkait UN misalnya kebocoran soal, ketidaklengkapan dokumen dan berita acara,” kata Mendiknas disela dialog pada Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Makassar, Rabu.

Read the rest of this entry

Iklan

BAHWA CINTA ITU ADA

GADING-GADING GANESHA

Satu lagi film nasional yang akan meramaikan khasanah perfilman di tanah air. Kali ini lewat film arahan Sujiwo Tejo yang berjudul Bahwa Cinta itu Ada (Gading-Gading Ganesha). Menceritakan kisah enam mahasiswa ITB yang berbeda status sosial dan latar belakang. Film ini diadaptasi dari novel karya Dermawan Wibisono dengan judul yang sama. Read the rest of this entry

PEMENANG PIALA OSCAR 2010

Perhelatan Akbar Insan Film Dunia Academy Award 2010 atau piala oscar baru saja selesai digelar di Kodak Theatare Los Angeles. Para kontestan juara pada setiap Nominasi Oscar 2010 terlihat sangat antusias . Dan setelah para juara oscar diumumkan, barulah semuanya tertawa dan ada yang terlihat meneteskan air mata kebahagiaan.

FILM te[rekam] TANPA SUTRADARA

Olga Lydia lahir di Jakarta, 4 Desember 1976. Olga yang kini dikenal sebagai pembawa acara dan juga aktris, mengawali karirnya dari panggung catwalk dan menjadi model sejumlah produk serta bintang video klip.
Perempuan lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Parahyangan itu, pernah dan sedang menjadi pembawa acara Sisi Lain (Trans TV), Jelita (Trans TV), Otomotif (TV7), A1 (Global TV), Dunia Samsung (Metro TV) dan Republik Mimpi (Metro TV). Sementara dalam seni peran, namanya dikenal lewat sinetron LO FEN KOEI (RCTI) dan film horror 12 AM serta turut mendukung film terbaik FFI 2006, EKSKUL.

AKSI SOLIDARITAS MAHASISWA MAKASSAR

Dua hari kemarin bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian di Makassar. Menarik untuk ditelaah, karena peristiwa itu ikut melibatkan warga. Tidak jelas, apakah keikutsertaan warga itu secara spontan karena kesal aksi mahasiswa memacetkan jalan raya. Ataukah, mungkin juga ada pihak yang memobilisir dengan alasan aksi mahasiswa itu mengganggu arus lalu lintas. Hal ini rasanya perlu dilakukan penelusuran.

Tetapi apa yang terjadi di Makassar dua hari belakangan ini adalah salah satu fenomena yang luar biasa. Betapa mahasiswa yang dianggap memiliki tingkat intelektualitas lebih malah mempraktikkan jalan kekerasan untuk menyampaikan pendapatnya.

Ada dua hal yang sungguh menggelitik. Pertama adalah pandangan masyarakat kita yang senantiasa menyamakan antara intelektualitas dan moralitas. Sementara dua hal tersebut sebenarnya memiliki substansi berbeda.

Intelektualitas berdiri di atas ranah kognisi, sementara moralitas berada dalam tataran etika.

Sebenarnya hal ini bisa dipahami sebagai cermin yang merefleksikan dambaan masyarakat banyak terhadap sejalannya intelektualitas dan moralitas, utamanya di kalangan generasi muda. Seseorang belum tuntas tahapan intelektualitas andaikata moralnya belum terbangun sempurna.

Aksi solidaritas mahasiswa se-Makassar dipicu atas penyerangan sekretariat HMI oleh oknum anggota Densus 88 pada Rabu malam 3 Maret lalu, berujung bentrok di beberapa lokasi. Akibatnya, sejumlah kendaraan bermotor, fasilitas kepolisian dan traffic light serta inventaris HMI, mengalami kerusakan. Selain itu, arus lalu lintas di lokasi insiden sempat macet beberapa jam.

Sementara itu Pengakuan blak-blakan ini dilontarkan Kapolda Adang Rochjana, saat berdialog dengan mahasiswa di Wisma HMI Cabang Makassar Jalan Botolempangan, sore kemarin. Kapolda mengaku sangat terpukul dengan adanya pengrusakan Wisma HMI dan mengaku memang ada oknum tertentu yang ingin menjatuhkannya.

“Sejak awal saya sudah menduga, kasus penyerangan Wisma HMI Cabang Makassar ini sudah disetting untuk menjatuhkan saya. Buktinya, persoalan pribadi tapi merembet ke bentrok antara HMI dan polisi,” beber Adang.

Persoalan pribadi dimaksud menurut Adang, melibatkan salah seorang mahasiswa Universitas 45, Azhary Setiawan alias Kama Cappi, 35, dengan anggota Densus 88 Anti Teror, Aiptu Sutriman. Penyebabnya, Kama Cappi diduga melontarkan kata-kata kotor terhadap Sutriman saat mengamankan aksi demonstrasi di depan kampus Universitas 45 Jalan Urip Sumoharjo.

Karena dikejar oleh Sutriman, Kama Cappi lalu berlari ke Wisma HMI. “Nah, karena mencari Kama Cappi anggota langsung masuk ke Wisma HMI. Dari sinilah kemudian timbul gesekan antara polisi dan mahasiswa,” kata Adang.

Meski begitu, Kapolda berjanji menindak tegas anggotanya yang terbukti melakukan tindakan represif dengan sanksi berat berupa pemecatan. “Anggota yang terbukti menyerang Wisma HMI dan memukuli mahasiswa tentu akan diberi sanksi. Kalau perlu dipecat. Saya bersedia mengundurkan diri jika itu penyelesaiannya. Mohon maaf saya sebentar lagi pensiun tapi jangan korbankan institusi Polri,”kata Adang.ditambahkan juga bahwa pihaknya sudah menetapkan anggota polisi sebagai tersangka penyerangan sekretariat HMI, termasuk seorang anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

Di Jakarta, Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri menyampaikan permohonan maat atas insiden penyerbuan Sekretariat HMI Makassar.

Dan sampai hari ini kesepakatan damai sudah tercapai antara pihak kepolisian dan mahasiswa . Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin membacakan isi kesepakatan antara semua pihak terkait dengan mengamankan Kota Makassar.

Dalam pertemuan tersebut disepakati, tidak ada lagi aksi demonstrasi soal HMI-polisi. Kemudian, semua unsur (mahasiswa, HMI, warga, polisi) bisa menahan diri

“Diharapkan keterlibatan kampus untuk mengendalikan mahasiswa di kampus. Kalaupun terjadi kerusuhan, tanggung jawab semua pihak untuk menengahi,” kata Ilham.

Di bagian akhir kesepakatan disebut, akan dilakukan perbaikan sekretariat HMI Cabang Makassar dalam waktu sesingkatnya.

Lalu rumah masyarakat yang rusak, siapa yang ganti?

Sumber : Tribun-timur.com