Arsip Blog

FILM RUMAH DARA

rumah dara

Di Negara kita, film dengan genre slasher memang jarang dibuat. Persoalannya karena film semacam ini ini memiliki tingkat kesulitan dan detail serta effect tingkat tinggi.

Disamping peñata artistiknya membutuhkan keterampilan yang luar biasa. Efek darah muncrat, kepala menggelinding, anggota tubuh yang patah merupakan efek film yang sangat sulit dilakukan. Hanya pembuat film Hollywood dan Hongkong saja yang memiliki keterampilan yang baik membuat film jenis ini.

Untuk penggemar film yang bergenre seperti itu, besok tanggal 22 Januari 2010 secara serentak di beberapa bioskop tanah air akan diputar sebuah Film yang berjudul Rumah Dara.

Film garapan ciamik dari sineas Timo Cahyanto dan Kimo Stambul yang lebih dikenal dengan nama Mo Brother , mengaku dirinya lagi bokek berat saat menggarap film ini. Meski tak punya biaya, Timo dan Kimo tidak patah arang.

Hingga akhirnya, mereka pun bertemu seorang produser dari Singapura yang mau memberikan modal untuk menggarap ‘Rumah Dara’. Dengan menggaet Shareefa Daanish dan Julie Estelle sebagai bintang utamanya, Timo dan Kimo pun memulai penggarapan ‘Rumah Dara’ pada November 2009, dengan harapan bisa rilis Agustus 2009. Namun, saat waktunya tiba, mereka terpaksa mengubah rencana tersebut. Karena apa? “Gue nggak mau ngeluarin ‘Rumah Dara’ Agustus karena ada ‘Merantau’ dan ‘Merah Putih’,” ucap Timo.

Sambil menunggu tanggal yang tepat, Timo dan Kimo pun mendaftarkan ‘Rumah Dara’ ke beberapa festival film di luar negeri. Alhasil, film tersebut mendapat penghargaan di Puchon International Fantastic Film Festival, Korea. Tak hanya itu, sang bintang utama, Shareefa Daanish yang berperan sebagai Dara dinobatkan sebagai Aktris terbaik di ajang tersebut.

Film ini tidak akan memperlihatkan ketakutan akan hantu tetapi membangkitkan rasa takut terhadap keluarga pembunuh. Film yang awalnya diberi judul Macabre dan berubah menjadi Rumah Dara ini merupakan versi panjang film “DARA” di seri kompilasi TAKUT. Sebelumnya, The Mo Brother menyajikan film ‘Dara’ dalam sebuah film kompilasi horor “Takut” yang membuat Dannish meraih best Actress di Puchon film festival.

Film Rumah Dara sendiri menceritakan pengalaman paling mencekam 6 orang teman lama.

Adjie dan Astrid, pasangan yang baru saja dikarunia anak bernama Nico pergi ke Bandung bersama tiga orang temannya Jimmy, Eko dan Alam. Mereka pergi ke Bandung untuk berpamitan dengan Ladya, adiknya karena Adjie dan Astrid akan pergi ke Australia dan memulai hidup disana.

Hubungan Adjie dan Ladya sebenarnya kurang harmonis semenjak kematian orang tua mereka. Dengan usaha keras, Adjie pun berhasil membujuk Ladya. Meski semula enggan, Lidya akhirnya luluh ketika mendengar sang kakak bakal tinggal di negara lain. Maka ketika Adjie meminta Lidya menemaninya ke bandara, Lidya pun tak keberatan.

Dalam perjalanan menuju bandara, secara tidak sengaja rombongan Adjie menemukan Maya (Imelda Therinne), seorang korban perampokan. Tak tega meninggalkan Maya, mereka pun sepakat mengantarkan Maya ke rumahnya. Dan di sinilah awal mula tragedi terjadi, namun keenam orang ini tidak menyadari bahaya yang mengancam nyawa mereka.

Disana, mereka disambut baik oleh penghuni rumah. Seorang gadis anggun bernama Dara dan menawan mempersilahkan menikmati makan malam yang telah disediakan. Disinilah pengalaman buruk 6 orang teman lama dimulai. Kebaikan hati penghuni rumah menjadi awal bencana di hari kelam itu. Mereka pingsan setelah menyantap makanan tersebut dan mendapati diri mereka terkurung ketika tersadar.

Kebaikan hati, kemurahan hati dan senyum manis berubah drastis di keluarga tersebut. Mereka menjadi pembunuh yang keji. Keenam orang tersebut terjebak dalam situasi mencekam dimana satu persatu mereka dibantai secara sistematis. Mereka harus berjuang melarikan diri dari rumah berdarah tersebut. Akankah mereka berhasil? Siapakah Dara dan keluarga tersebut? pertanyaan ini akan terjawab jika kita menonton film ini besok.

Film ini dibintangi oleh artis/aktor Julie Estelle, Shareefa Daanish, Ario Bayu, Sigi Wimala, Mike Muliardo, Imelda Theriine, Arifin Putra, Dendy Subangil dan Daniel Mananta.


Pengamat Film Indonesia Yan Widjaya mengatakan perkembangan film dengan genre Slasher memang minim. Pada periode 2009 hanya ada tiga film dari puluhan film yang beredar di Indonesia. Tiga film itu antara lain Pintu Terlarang, Darah Perawan Bulan Madu dan Air Terjun Pengantin. Setelah Pintu Terlarang, Film Rumah Dara merupakan film yang patut dibanggakan karena secara kualitas film ini jauh lebih baik dibanding film-film lainnya.

Bagi penggemar film ini silahkan langsung ke situsnya disini atau bergabung dengan twitternya disini

‘300’ HADIAH DARI PUTRI

300

Kemarin saya dapat hadiah dari PUTRI MALU berupa sebuah DVD Film dengan judul ‘300’, dan dia berpesan supaya harus diposting pada hari ini. Semalaman setelah nonton filmnya sempat saya berfikir, “Mengapa PUTRI mengharuskan saya mempostingnya hari ini?”.

Namun setelah membuka blog saya hari ini, barulah jawabannya saya temukan….. ternyata postingan kali ini tepat sama dengan judul film tersebut yaitu ‘300’. Ternyata si PUTRI sangat memperhatikan hal ini sampai dia menyempatkan diri untuk mencari hadiah khusus untuk postingan ke-300 ini.

Film ini menceritakan kembali pertempuran kuno Thermopylae yang ganas. Di mana Raja Leonidas (Gerard Butler) dan 300 tentara, berjuang mati-matian melawan Xerxes dan tentara Persianya yang berjumlah ribuan.

Ke 300 pasukan Spartan ini begitu tenang manghadapi musuh yang sangat banyak itu, hari demi hari mereka lewati dengan semangat juang mereka demi mempertahankan wilayah mereka. Tetapi Xerxes selalu memiliki taktik yang licik untuk mengalahkan pejuang Spartan ini.

Menghadapi kemungkinan tersebut, sikap satria dan pengorbanan mereka mengilhami seluruh Yunani untuk bersatu melawan musuh Parsia, membangun sebuah demokrasi.

Film ini sangat bagus untuk hal entertainment (hiburan) walaupun bisa dikatakan film ini bukan golongan film untuk semua umur mengingat banyak menyuguhkan darah dan kekerasan, tetapi hal tersebut memang tidak dapat dilepaskan dari tema dari film ini sendiri yang berusaha menggambarkan “suasana perang” .

Usaha untuk menggambarkan sisi sejarah dan legenda seperti “tertelan” oleh canggihnya teknik berperang Spartan dan terpesonanya kita kepada peperangan itu sendiri, dan tak luput juga film ini berisikan bumbu-bumbu Hollywood seperti pengkhianatan, kepahlawanan yang digambarkan di pihak Raja Leonidas dan pasukan Spartannya dan sijahat yang digambarkan pada pihak Raja Xerxes dan pasukan Persianya dan tentu saja sex dan tragedi.

Saya ingat betul Film yang dirilis di Bioskop 2 tahun yang lalu ini sempat menjadi Box Office, kalau dibandingkan dengan film sekarang mungkin setaraf dengan Film 2012 atau AVATAR.

Selain menghasilkan banyak uang, film ini juga menuai kritik pedas. Setelah diluncurkan, “300” langsung mendapat respon pemerintah Iran. Bahkan Presiden Iran Mahmoud Admadinejad mengungkapkan rasa marahnya terhadap film ini. Film ini dinilai mendeskreditkan bangsa Iran (Persia) yang digambarkan sebagai penjahat, tidak berprikemanusiaan, dan hanya berfikir menyerang bangsa lain serta suka membunuh.

Belajar dari kisah film diatas, ada 3 (tiga) point penting yang sempat menjadi bahan pembelajaran.

1.Kesungguhan ( totalitas )
Point ini menjadi paling penting, karena terbukti kisah patriotisme Pasukan Sparta tidak sia-sia. Walau kesemua 300 orang gugur sebagai martyr tetapi pengorbanan dan totalitas mereka membuat Pasukan Persia harus menghitung ulang keingian mereka dalam menaklukan daratan Eropa.

2.Strategi yang Matang
Celah sekecil apapun tidak akan menguntungkan pasukan Sparta, bila mereka tidak cerdik dalam menyusun strategi peperangan. Dengan strategi matang, mampu membuat “neraka” bagi para pasukan Persia.

3. Team Work dan Keikhlasan
Team tidak hanya mengandalkan kerja team yang memang telah ditugasi. Tetapi seluruh team mulai Penanggung Jawab tertinggi sampai PIC lapangan harus bekerja dalam satu langkah yang padu. 300 orang Pasukan Sparta tidak hanya terdiri dari orang yang memang terlatih tetapi juga rakyat biasa yang terpanggil membantu perjuangan mempertahankan wilayah mereka. Dan hal ini seharusnya dapat dikerjakan dengan rasa keikhlasan. Tanpa hal ini maka semua kerja keras team akan tidak berjalan dengan baik. Terbukti kekokohan “benteng” pasukan Sparta akhirnya harus jebol karena adanya salah satu anggota pasukan yang membelot dan menginformasikan kepada Pasukan Persia, akan adanya celah jalan lain menuju ke Sparta Athena.

Menonton film ini bagai menyaksikan pameran lukisan impresionistis sepanjang hampir dua jam. Dan bila dibandingkan dengan film-film terdahulu yang mengisahkan para ksatria Yunani. Terasa benar, setelah mengalami gelegar film 300, maka film-film seperti Troy, Alexander, dan Kingdom of Heaven menjadi film yang kelewat tenang dan sopan.

Berikut Trailer filmnya yang saya petik dari youtube.

HARI UNTUK AMANDA

HARI UNTUK AMANDA

Saya merasa penasaran setelah melihat cuplikannya di beberapa stasiun TV. Film ‘HARI UNTUK AMANDA‘ yang sementara tayang di beberapa bioskop di Indonesia.

Sekilas Film ini terkhusus buat kaum wanita namun ternyata juga sangat penting ditonton oleh kalangan laki-laki sebagai pelajaran. Mengapa film Hari Untuk Amanda begitu menarik? Karena disini ada kisah cinta seorang wanita yang bimbang dengan pilihan pasangan hidup, hati yang pasti terpilih dan siapakah pilihannya ?

Pernikahan menjadi dambaan dua orang insan yang sudah menjalin hubungan, seperti yang dialami oleh Amanda Sudirdja(Fanny Fabriana) dan Dody Arifin (Reza Rahadian). Menjelang 10 hari pernikahan, secara tiba-tiba muncul sosok dari masa lalu Amanda, Hari Ananda (Oka Antara).

Amanda merasa bimbang dan cemas. Permasalahannya mantan pacarnya Hari hadir kembali dalam kehidupannya ketika dia akan menikah dengan Dody. Hubungan si Amanda dengan Hari pernah dibina selama 8 tahun ini kandas di tengah jalan.

Amanda berharap Dody adalah laki-laki yang didambakan dalam hidupnya. Oleh karena itu pernikahannya dengan Dody harus menjadi moment yang sangat sempurna. Namun disaat waktu persiapan pernikahan, Amanda dan Dody malah dilanda ketegangan. Hanya gara-gara masalah kecil, mereka bisa bertengkar. Mulai dari masalah tanggal salah cetak di undangan, sampai gedung yang mereka sewa harus direnovasi mendadak. Hal ini ditambah dengan Dody yang tidak bisa selalu menemani Amanda untuk mengurus pekerjaannya, dikarenakan posisinya sebagai junior brand manager yang dinilainya jauh lebih hectic daripada Amanda, seorang Public Relation. maka Amanda lah yang berusaha keras mengatur semua itu seperti membagi undangan dan sebagainya.

Disaat Amanda membagi undangan pernikahan, Amanda hendak mengirimkan ke Hari (mantan pacarnya dulu ) dan mantan pacarnya Dody.

Moment itu lah yang dimanfaatkan oleh Hari untuk mengenang masa lalu nya dengan Amanda. Benih cinta lama kembali bersemi kembali diantara mereka berdua, tetapi Amanda merasa bingung dengan keadaan ini. Waktu 10 hari lagi akan menjadi hari yang spesial untuk Amanda. Konflik akhirnya muncul diantara Amanda dan Dody akibat hadirnya Sang mantan Hari. Selain itu, Amanda mulai kesal dengan sikap Dody yang tidak pernah memberikan kesempatan berbicara dan selalu sibuk dengan pekerjaannya, sangat berbeda jauh dengan Hari yang selalu santai menjalani hidup.

Amanda pun mulai mengalami dilema. Di satu sisi, Dody begitu sibuk luar biasa sampai tidak bisa membantu Amanda dalam mempersiapkan pernikahannya. Sementara Hari, yang punya moto ‘hidup itu santai seperti di pantai, slow kayak di pulau’, memiliki banyak waktu dan benar-benar santai.

Rasa nyaman bersama Hari membuat Amanda hanyut dalam kenangan. Tapi saatnya bagi Amanda untuk memutuskan dan memilih siapa satu dari dua pria yang ada dihadapannya. Mantan kekasihnya yang hidup mengikuti arus, atau tunangannya yang sibuk hingga tak ada waktu tersisa?

Akankah Amanda tetap memilih menikah dengan Dody? Ataukah pilihannya jatuh pada Hari?

‘Hari Untuk Amanda’ adalah cerita yang mungkin dialami banyak pria maupun wanita di luar sana. Jangan heran saat Anda menontonnya, kata ‘gue banget’ bisa langsung terbesit di benak Anda. Siap-siap saja untuk mengikuti alur cerita dengan tawa canda hingga haru. Karena inti film ini memang tentang suatu hubungan, pilihan dan kepastian hati.

Film ini tak hanya menghibur, tapi menonton kisah “Hari Untuk Amanda” juga membuat kita berpikir ulang, sudah benarkah sesuatu yang kita pilih?

Dengan menghadirkan pemain berbakat seperti Reza Rahadian, Fanny Fabriana, Oka Antara, Kinaryosih, Aida Nurmala, Indra Herlambang dan disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko membuat Film Hari Untuk Amanda layak di tonton ! Semoga film yang ditulis oleh Ginatri S Noer ini akan sukses seperti Ada Apa Dengan Cinta.

*Kadang apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita. Bukan masalah siapa yang kita pilih, tapi mengapa kita memilihnya?*

Dirangkum dari berbagai sumber

FILM TOILET 105

TOILET 105

Usaha sineas dan pekerja film Indonesia yang telah memutar kembali roda industri perfilman Tanah Air setelah sempat mati suri selama beberapa tahun, memang patut di apresiasi.

Kerja keras, kreatifitas dan tekad mereka yang besar untuk memajukan perfilman dalam negeri memang membanggakan. Berkat kerja keras mereka, bioskop-bioskop di negeri ini tak lagi didominasi oleh film-film impor dari Hollywood, Bollywood, atau dari Asia Timur (Jepang, Taiwan, Korea, China-Mandarin). Film-film kita sudah mulai menunjukan taring. Tapi, itu hanya dari segi kualitas. Jika berbicara pada tataran kualitas tema, isi, serta ide cerita yang diusung oleh film-film buatan dalam negeri, kita masih jauh ketinggalan.

Berlebihan memang jika mengatakan bahwa film-film Indonesia kurang bermutu, demi mengingat ada beberapa film kita yang menda¬pat penghargaan di beberapa ajang berskala besar seperti film Pasir Berbisik Gie, Berbagi Suami, Opera Jawa atau Sampai pada Janji JoniJamila dan Sang Presiden. Tapi, jika kita melihat secara umum, film-film produksi Tanah Air memang kurang bersisi.

Tema-tema yang diangkat terasa monoton dan terkesan mengikut-ikut. Film-film kita banyak yang hanya mengang¬kat tema-tema tema humor serta horor dengan bumbu vulgar seperti Air Terjun Pengantin dan Suster Keramas.

Meskipun beberapa tahun terakhir muncul beberapa film bertema lain seperti, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi namun Film Horor nampaknya banyak mendominasi industri film sekarang ini. Tren tampaknya memang menjadi suatu keniscayaan bagi kalangan sineas yang kurang produktif. Dan menurut penilaian saya pribadi film-film lokal yang diproduksi belakangan ini, maka kita akan melihat betapa tidak produktifnya ide/tema yang digarap dalam film-film tersebut.

Seperti halnya dengan film Toilet 105 yang akan dirilis di Bioskop mulai 14 Januari 2010 besok. Berikut adalah sinopsisnya :

Toilet umum biasanya tidak selalu bersih dan wangi, maklum namanya toilet umum, sehingga digunakan banyak orang. Tapi berbeda dengan toilet yang dimiliki oleh SMU Bina Persada. Selalu wangi dan bersih, dan jadi favorit, tak hanya siswa-siwa tapi juga ‘penghuni’ lainnya, yakni makhluk halus.

Okta (Ricky Harun), Ical (Lionil Tikoalu), dan Rio (Rizky Putra) adalah para siswa SMU Bina Persada yang selalu mendapat teror dari ‘penghuni’ toilet itu.

Dan teror itu pun semakin gencar ketika SMU Bina Persada kedatangan murid baru, Marsya (Coralie Gerald). Para warga sekolah semakin sering sering melihat penampakan-penampakan yang membuat bulu kudu kuduk berdiri, yakni berupa potongan-potongan tubuh. Sang satpam sekolah (Aming), guru favorit (Indra Birowo) hingga guru paling killer (Suti Karno), semua ketakutan dengan teror si ‘penunggu’ toilet.

Akhirnya, Marya sadar bahwa ialah yang diincar oleh setan penunggu toilet ini. Ia harus menuntaskan sebuah dendam, jika Marsya tak mau terus-terusan diteror oleh setan itu. Terlebih lagi, ia tak mau timbul semakin banyak korban di sekolah barunya.

Apakah yang akan dilakukan Marsya agar setan toilet itu tak lagi meneror seluruh isi sekolah? Lalu apa sebenarnya rahasia di balik teror setan toilet tersebut? Silahkan anda menyaksikannya besok. Awas, jangan pernah sendirian, karena sineas kita sangat ahli dalam menakut-nakuti penonton!

Selama kuasa pasar dan politik kapitalisme masih memainkan peran yang besar di hampir setiap lini kehidupan di negeri ini, kecil harapan industri perfilman Tanah Air akan terus berkembang. Industri perfilman Indonesia hanya akan berjalan di tempat. Jumlah film yang dihasilkan memang besar, namun dari segi kualitas, terkesan kurang berisi dan monoton. Pun, miskin nilai edukasi.

Mohon maaf… itu hanya sekedar penilaian pribadi saya.

Bagaimana dengan penilaian anda? Silahkan share di kotak komentar di bawah.

FILM SANG PEMIMPI

ARIEL

“Tak bisa dipungkiri, JIFFest adalah sebuah festival secara keseluruhan yang menjadi etalase perkembangan film Indonesia di mata pelaku film internasional,”

kali ini film karya sutradara muda dan berbakat Riri Riza yang berjudul Sang Pemimpi menjadi pembuka Jiffest ke 11. Hal ini merupakan kali pertama dalam sejarah Jiffest berlangsung. Sang sutradara pun merasa sangat bangga mendapat kepercayaan ini.

Jiffest adalah sebuah ajang penting, untuk cinema pasca reformasi, dimana kita menandai reformasi dimulai itu ada saat tahun 1998, dimana ada beberapa film penting dirilis dan juga Jiffest dimulai, jadi kalau setelah sebelas tahun akhirnya film Indonesia diputar sebagai film pembuka Jiffest dan kebetulan itu film saya, saya sangat bangga,” ujarnya saat pembukaan Jiffest ke 11.

Sang Pemimpi adalah sebuah film Indonesia tahun 2009 yang diadaptasi dari tetralogi novel Laskar Pelangi kedua, Sang Pemimpi, karya Andrea Hirata. Film ini disutradarai oleh Riri Riza dengan produser Mira Lesmana. Pengambilan gambar dimulai di Belitung (Belitong, dalam bahasa setempat) pada 1 Juli 2009 dan selesai pada 21 Agustus 2009, dan akan dilakukan di beberapa lokasi di Manggar, Tanjung Pandan, Jakarta, dan Bogor. Film ini rencananya akan tayang di bioskop di Indonesia mulai 17 Desember 2009.

Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang mempesona dan akan membuat Anda percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan. Lebih dari itu, akan membuat Anda percaya kepada kekuasaan Tuhan.

Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran di mana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib dan tanangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap sekaligus kebahagiaan yang mengharu biru.

Film ini menceritakan mengenai Ikal dan saudara sepupunya, Arai, serta sahabatnya, Jimbron, pada usia remaja, dan mengisahkan mengenai anak remaja yang mencari identitas diri dan seksualitas pada usia 17 tahun.

Ikal masih merindukan cinta pertamanya yang telah pergi dari Belitung, menyisakan hanya kenangan dan sebuah kotak kaleng yang bergambarkan menara Eiffel. Arai, seorang playboy bergaya Melayu, jatuh cinta kepada teman sekelasnya Zakiah Nurmala yang tampaknya bertepuk sebelah tangan. Sementar itu, Jimbron berangan-angan untuk menyelamatkan Laksmi, seorang gadis muda yang bekerja di sebuah pabrik cincau. Bersama-sama, ketiganya berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi.

Arai Sang Simpai Keramat yang menjadi yatim piatu saat masih kecil, walaupun begitu ia memandang dunia dengan penuh warna dengan segala ide dan perbuatannya untuk selalu mendukung dan memberikan yang terbaik bagi orang2 di sekitarnya.

Setelah bertemu dengan guru idolanya yaitu Pak Balia sang guru muda yang inspiratif dan bersemangat membuat ketiga sahabat karib itu mempunyai impian yang bagi penduduk kampung Belitong sangat tinggi yaitu menginjak altar suci Universitas Sorborne Prancis.

Sang Pemimpi diperankan oleh beberapa artis terkenal serta artis film pendatang baru asli Belitung. Hanya beberapa pemeran dari Laskar Pelangi yang dipertahankan untuk turut dalam film ini. Vikri Setiawan, Ahmad Syaifullah, Azwir Fitrianto, Sandy Pranatha, dan Zulfanny adalah para pemeran asli Belitung.
  • Vikri Setiawan sebagai Ikal remaja.
  • Lukman Sardi sebagai Ikal dewasa (juga dalam Laskar Pelangi).
  • Zulfanny memerankan Ikal kecil (juga dalam Laskar Pelangi)
  • Ahmad Syaifullah sebagai Arai remaja. Arai merupakan sepupu jauh Ikal yang ditinggal mati kedua orang tuanya dan kemudian diangkat sebagai anak oleh orang tua Ikal. Bagi Ikal, Arai adalah pahlawannya.
  • Nazriel Ilham (Ariel “Peterpan”) sebagai Arai dewasa. Mira Lesmana menyatakan bahwa Ariel Peterpan sebagai Arai dipilih melalui proses casting, bukan karena kepopulerannya.
  • Sandy Pranatha sebagai Arai kecil.
  • Azwir Fitrianto sebagai Jimbron remaja.
  • Mathias Muchus sebagai Seman Said Harun, Ayah Ikal (juga dalam Laskar Pelangi).
  • Rieke Diah Pitaloka sebagai Ibu Ikal (juga dalam Laskar Pelangi).
  • Nugie sebagai Pak Balia, seorang guru muda pengajar sastra yang inspiratif dan bersemangat, yang menginspirasi Ikal dan Arai untuk bermimpi kuliah di Perancis. Nugie mengatakan bahwa demi tampil maksimal dalam film ini, ia belajar jadi orang culun, memakai kemeja lusuh, dan celana di atas perut. Ia juga harus mempelajari dialek Belitong dengan mendengarkan rekaman percakapan orang-orang Belitong. Film ini dianggapnya sebagai sebuah batu loncatan.
  • Landung Simatupang sebagai Pak Mustar, kepala sekolah yang keras dan galak.
  • Maudy Ayunda sebagai Zakiah Nurmala, gadis Melayu nan cantik yang menjadi obsesi cinta Arai.
  • Yayu Unru sebagai Bang Rokib, pelaut Melayu yang berpengalaman.
  • Jay Widjajanto sebagai Bang Zaitun, pemusik Melayu lokal yang lihai soal asmara.
Semoga saja Film yang berdurasi 120 menit dan menelan biaya produksi 11 Milyar ini, dapat bersaing dalam kancah perfilman International JIFFest 2009, minimal dapat mengulangi kesuksesan Film Laskar pelangi.