Arsip Blog

Simpati untuk Bilqis, Peti buat Koruptor

BILQIS ANINDYA PASSA (19 bulan) hanyalah orang biasa, seperti bayi lain pada umumnya, yang menderita penyakit hingga pada saatnya dipanggil oleh-Nya.

Putri pasangan Doni Ardiantha Passa dan Dewi Farida tersebut menderita atresia bilier (saluran empedu tidak terbentuk), dan meninggal sebelum dioperasi oleh tim cangkok hati RSUP dr Kariadi, Semarang, Sabtu (10/4), setelah paru-paru dan darahnya terserang bakteri ganas. Read the rest of this entry

KEGEMBIRAAN SISTEMIK

Pagi itu , Saya terbujuk keinginan si Kecil untuk menangkap Jangkrik di sekitar rumah. Seusai hujan kemudian matahari sedikit bersinar, jangkrik banyak dijumpai lompat-terbang di sana-sini.

Saya tahu bahwa perkenalan pertama si Kecil dengan binatang jenis itu adalah lewat televisi tentang bocah yang sering berpetualang dan menangkap binatang kecil seperti jangkrik.

Cukup lama, Saya belum mendapatkan seekor pun. Pergerakan jangkrik sangat lincah bila dibandingkan dengan gerakan saya . Saya sudah merasa capek, melangkah ke sana kemari sembari membungkuk mencari Jangkrik. Tapi saya tetap berusaha bersabar.

Saya terhibur dengan semangat si kecil untuk menangkap binatang lucu itu.

Tiba-tiba muncul dalam pikiran saya, mengapa waktu seperti ini saya tidak gunakan untuk membaca buku, koran, atau ngeblog…… Tentunya banyak informasi yang terlewatkan serta kesetiaan teman2 berkunjung di blog saya belum bisa terbalas. Dibanding menangkap jangkrik seperti ini.

Tapi si Kecil tampaknya sungguh gembira berlari ke sana-sini mengejar jangkrik yang berlompatan di sekitar pematang sawah. Eits, bukankah ini kesempatan yang mahal? melihat bagaimana ia bergembira adalah suatu kebahagian tersendiri dalam hati saya. Kegembiraan yang ia rasakan menular ke perasaan saya .

Oya, tepat sekali, Saya pernah membaca sebuah artikel laporan penelitian mengungkapkan bahwa kegembiraan seseorang dengan cepat menular kepada orang lain.

Kegembiraan berdampak sistemik yang positif kepada orang yang ada di sekitar kita. Berbeda dengan kemurungan dan kesedihan seseorang, tidak cepat berdampak kepada orang lain.

Saya belum dapat menangkap seekor pun. Namun saya sangat bersyukur “merasakan” hal seperti ini. Saya dapat melihat berbagai jenis rumput, tumbuhan liar, berbagai jenis batu, bunga kecil, bulu bunga, cacing, kadal, siput, kupu-kupu, daun kering, dan mencium bau tanah segar.

O, benarlah apa yang dikatakan Conficius bahwa semua ciptaan Tuhan di dunia mengandung keindahan tetapi hanya segelintir orang yang bisa dan mempunyai kesempatan merasakannya. Luangkan waktu untuk mendapatkan keindahan-keindahan itu. Berjalanlah kalian di muka bumi….

Saya jadi kian bersemangat membantu si Kecil menangkap belalang. Terkadang saya berpura-pura menjatuhkan diri, membuatnya tertawa-tawa. Benar, ini adalah kesempatan yang mahal. Ini adalah kegembiraan yang tertular di antara saya dan si Kecil dan nampaknya matahari pun yang mulai meninggi tertawa gembira melihat suasana kebersamaan kami.

Saya teringat sebuah kisah tentang seorang ayah yang sangat sibuk. Suatu hari, putranya yang berusia lima tahun merengek untuk dimandikan oleh sang ayah, sekali saja. Namun sang ayah tak punya waktu untuk itu. Ia hanya mengusap rambut putranya kemudian melesat pergi ke tempat kerja.

Menjelang malam, sang ayah dikabari putranya demam tinggi. Sang ayah tetap melanjutkan aktivitasnya dan yakin istrinya dapat menangani masalah itu, lantaran pikirnya, itu demam biasa. Tiga jam kemudian, ia mendapat kabar putranya telah meninggal dunia.

Ketika ikut memandikan jenazah putranya, sang ayah itu tersentak. Pagi ketika akan berangkat kantor anaknya merengek untuk dimandikan. Sekarang, ia memandikan tapi dalam kondisi sang anak sudah tidak bernyawa. Menangislah sang ayah, sembari mengatakan berulang-ulang, “Ayah tengah memandikanmu, Sayang….”

Beberapa saat, saya dapat menangkap seekor jangkrik yang besar. Dengan suka cita si Kecil segera memasukkannya ditempat yang sudah disediakan.

Terima kasih banyak Tuhan, saya sudah diberikan suasana kegembiraan dengan si Kecil yang akhir-akhir ini hampir kami lupakan.

FACEBOOK JADI KAMBING HITAM

FACEBOOK

Hari ini, lebih dari 15 juta penduduk Indonesia dan 350 juta penduduk dunia terkesima, larut, dan hanyut dalam derasnya fasilitas informasi dan komunikasi bernama Facebook, mulai dari kota hingga pesolok bumi. Tak mengenal waktu, mulai bangun tidur, hingga tertidur-tidur di depan laptop.

Pertanyaan kemudian, bermanfaatkah jejaring elekronik dunia maya itu dalam kehidupan umat manusia? Terlalu panjang untuk mengkaji manfaat dan kerugian Facebook secara mendalam. Tetapi secara sederhana setidaknya jejaring ini telah memberi kontribusi besar pada peradaban manusia di abad informasi.

Facebook telah menyambung komunikasi dari ujung dunia satu ke ujung lain dunia hanya dalam hitungan detik. Facebook mengganti jalinan komunikasi di ujung pulpen dan di atas kertas atau dari ujung lidah, dengan ujung jari telunjuk di punggung mouse komputer.

Facebook telah berhasil menghubungkan tali sitarrahim jutaan penduduk dunia yang terkendala waktu dan geografis. Facebook telah membangun persahabatan global bukan hanya tingkat komunitas, tetapi menggerakkan interaksi antarmanusia secara global yang sebelumnya terkendala ruang, waktu, dan aneka perbedaan kultural hingga rasial.

Bahkan Facebook telah mendorong melesatnya inovasi-inovasi media baru secara konvergensif, memudahkan umat manusia menikmati aliran informasi multidimensi dengan mudah, cepat dan efisien.

Fasebook telah menyambung tali silaturahim yang terputus karena kendala sarana informasi serta ruang dan waktu. Facebook bisa menjembatani kendala-kendala komunikasi secara psikologis dan bisa memecahkan problem-problem kemanusiaan.

Dari konteks ini, kita patut mengakui, Mark Zuckerberg menjadi agen kemanusiaan di era gelombang ketiga. Mark menjadi pengemban anugrah memulai peradaban baru bagi menusia memanfaatkan karunia Tuhan bernama dunia maya.

Beberapa waktu terakhir, Facebook justru menjadi ”kambing hitam” bagi sebagian masyarakat Indonesia. Seorang remaja putri dijahili temannya yang dikenal lewat internet, masyarakat ramai-ramai menyalahkan Facebook.

Ada anak muda minggat dengan pacarya, masyarakat menyalahkan Facebook. Ada yang menipu lewat internet, Facebook yang disalahkan. Ada foto-foto affair antara seorang bupati dengan wakilnya di account Facebook, lagi-lagi jejaring sosial ini dikambinghitamkan.

Media massa secara sadar atau tidak sadar, justru ikut mendorong masyarakat mengambinghitamkan Facebook. Padahal, betapa besar sumbangsih jejaring ini dalam interaksi memperoleh informasi. Ada mubalig dalam khotbah mengharamkan habis-habisan Facebook, padahal mungkin belum menggunakan atau bahkan melihat wujud Facebook pun belum pernah.

Marilah kita menyadari berada di era informasi. Di era ini, bisa jadi kualitas manusia, kualitas hidup, serta nilai-nilai, bisa diukur atau ditentukan sejauh mana menguasai informasi. Sebab dengan menguasai informasi, bisa menghindarkan manusia dari sekadar menjadi budak informasi dan ataum buta informasi.

Maka marilah kita memanusia yang wajar dan cerdas di era informasi. Mari kita tempatkan Facebook sebagai sebuah potensi informasi, komunikasi dalam transformasi pengetahuan. Facebook bukan subjek yang harus dikabinghitamkan dan ditakuti. Ia adalah objek dan sarana yang sangat tergantung pada manusia yang memanfaatkannya.

Dengan demikian, sebagai manusia yang beradab dan cerdas,

Mengapa mesti menggunakan Facebook untuk melakukan penipuan?
Mengapa mesti menggunakan Facebook untuk berbuat kejahatan?
Mengapa mesti sengaja menyembunyikan status di account sampai menimbulkan konflik rumah tangga?
Mengapa mesti memosting persoalan-persoalan pribadi yang tidak layak diketahui publik, bukankah Facebook adalah jejaring terbuka?
Mengapa mesti memfitnah sesama manusia dengan menggunakan Facebook?
Mengapa menoleransi Pocker permainan bawaan Facebook yang demikian menyandu, sampai lalai waktu bekerja dan beribadah?

Semuanya, bukan kesalahan Facebook, tetapi kualitas manusia yang memanfaatkan sarana informasi dan komunikasi jejaring sosial dunia maya. Adalah bodoh jika kita tidak memanfaatkan Facebook atau jejaring sosial lain untuk kemaslahatan hidup. Demikian juga sebuah kebodohan, jika kita kemudian menjadi budak jejaring sosial.

Dalam kegamangan manusia di era informasi, tantangan kita adalah memanusiakan manusia. Energi kita harus terkonsentrasi memandu sesama manusia, anak-anak kita agar cerdas mendayagunakan informasi. Jangan sampai energi kita habis hanya untuk mengutuk, melarang, mengharamkan, menyalahkan atau memaki.

Persoalanya tergantung pada manusia. Jangankan Facebook, kitab suci pun bisa dimanfaatkan untuk kejahatan, bila manusia telah kehilangan jiwa kemanusiaannya.

Sumber : Tribuntimur.com

MENABUR KEBIASAAN MENUAI KARAKTER

Kemarin sore speedy kembali trouble, saya dan si Bungsu berniat refreshing untuk mancing,….. kebiasaan yang sudah sangat jarang saya lakukan sejak aktif ngeblog. Sebelum berangkat, kami tak lupa mampir di rumah Pak RT buat ngambil cacing tanah yang memang khusus dibudidayakan disana.

30 ekor cacing tanah segar berwarna merah masuk di kantong keresek si Bungsu, secara tidak sengaja ada satu ekor yang nyosor keluar dan jatuh tepat di ubin putih teras rumah pak RT. Si Bungsu ternyata tidak langsung memungutnya, malah asyik memperhatikan cacing tersebut meliuk-liuk meninggalkan lantai mencari tempatnya semula.

Peristiwa di atas hanyalah salah satu contoh yang dapat menjadi pelajaran bahwa cacing memiliki karakter tertentu yang lebih cocok di tempat yang lembab dan gelap. Ia merasa tidak nyaman tinggal di lantai yang bersih dan mengkilap karena memang tidak sesuai dengan karakter dirinya.

Sebuah perumpamaan lain, jika kita ditawari makan siang dengan menu Nasi dan Ikan goreng atau menu rumput segar!, Tampaknya kita semua akan memilih menu pertama. Tetapi bagaimana jika menu yang sama diberikan kepada seekor sapi? Tentunya sapi lebih memilih rumput segar dari pada nasi dan ikan goreng.

Lagi-lagi sapi memiliki karakter yang lebih cocok makan rumput dari pada lauk ikan, berbeda dengan karakter manusia.

Manusia memiliki karakter yang unik. Kita sama-sama sebagai manusia, tetapi masing-masing memiliki karakter yang berbeda bahkan kadang saling bertentangan.

Generasi muda sekarang umumnya menyukai musik rock, sedangkan para orang tua pusing mendengar music rock. Para preman jalanan gemar taruhan judi, sedangkan orang-orang suci sama sekali tak berminat, dan masih banyak contoh yang lain.

Meskipun suatu karakter tertentu telah menjadi milik seorang, namun karakter tersebut masih bisa diubah. Sebagaimana pendapat Aristoteles, karakter kita dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kita. Kita adalah apa yang kita kerjakan secara berulang-ulang. Oleh karena itu, keunggulan pada dasarnya bukanlah suatu perbuatan namun suatu kebiasaan.

Jadi kalau kita membiasakan diri untuk jujur, maka jujur akan menjadi karakter kita. Sebaliknya, orang yang biasa berdusta maka dusta itu menjadi karakternya.

Jadi marilah bersama menabur kebiasaan untuk menuai karakter.

HIDUP ADALAH BELAJAR

Saya sering mengikuti pelatihan dengan materi serta instruktur yang sama, namun semakin saya sering mengikutinya, rasanya saya semakin tertarik dan semakin menyelami kedalaman materi yang disampaikan.

Lain ketika kuliah dulu, materi kuliah yang saya dapatkan berulang-ulang apalagi dengan dosen yang sama, rasanya sangat membosankan.

Ada apa gerangan dibalik semua itu?….

Jawabannya adalah ’Profesionalisme’, yah profesionalisme yang dimiliki oleh Intruktur serta adanya kemauan untuk bersikap profesional dari setiap peserta pelatihan membuat materi yang disampaikan jadi semakin menarik dan semakin mudah diselami, berbeda sewaktu kuliah dulu… profesionalime dosen penyaji tidak diimbangi dengan kemauan keras oleh para mahasiswa, sehingga materi yang disampaikam terasa hambar dan membosankan.

Dan yang paling penting perbedaan diantara kedua hal tersebut diatas adalah keyakinan : Hidup adalah belajar.

World is changing. Ya, dunia memang sedang berubah. Itulah sifat dunia. Lalu bagaimana dengan ilmu pengetahuan?, bagaimana pula apabila ilmu dan pengetahuan Guru tidak berubah? Bila saja terjadi hal seperti itu, maka pengetahuan guru berubah menjadi ketidaktahuan. Karena pengetahuan yang dimiliki tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Naudzubilahi mindzalik…

Sebuah tantangan besar menghadang bagi semua Guru terutama saya tentunya. Tantangan itu bertajuk Prifesionalisme. Guru yang profesional harus meyakini bahwa hidup adalah belajar terus menerus ‘NEVER TOO OLD TO LEARN’, belajar untuk menuju kesempurnaan.

Belajar bukan hanya bentuk resmi di kelas. Belajar memiliki makna yang luas. Saat di rumah, berbincang-bincang dengan anakpun dapat dimanfaatkan sebagai momen belajar. Saat di perjalanan menuju kantorpun dapat sambil belajar. Terlebih lagi ngeblog dan blog walking tentunya.