Arsip Blog

XXL BERSAING DENGAN 2012 DAN NEW MOON

XXL

“Walah ndak bosen bosennya sih Bang, membahas tentang politik yg udah di bahas di tipi dari pagi hingga malam hari….”

Demikian salah satu komentar sahabat dalam postingan saya kemarin yang berjudul SKPP BIBIT-CHANDRA, emang rada bosen sih…. berita di TV cuman sekitar KPK, Bibit-Chandra, Angket Centry dan lainnya.

Pada postingan kali ini saya akan kembali membahas tentang sebuah film. Meskipun pembicaraan tentang hal ini masih ramai diberitakan tentang film 2012, NEW MOON, ataupun fose syur TAMARA BLESZYNSKI dalam Film AIR TERJUN PENGANTIN.

Film komedi bertajuk XXL (Double Extra Large) akan menjadi satu-satunya produk Indonesia yang bersaing dengan box office asing di bioskop tanah air pada akhir November hingga awal Desember ini, demikian yang diungkap oleh Chand Parwez Servia , produser film tersebut.

XXL merupakan film lanjutan dari film produksi Starvision di tahun 2007 yakni antara XL antara AKU, KAU DAN MAK EROT.

Secara keseluruhan, film XXL menawarkan komedi segar yang akan membuat penontonnya terhibur dengan paduan kekuatan peran dari para pemainnya yang memberikan unsur komedi yang kuat dalam masing-masing karakter yang dimainkan.

Penulis skenario Monty Tiwa mengatakan, dalam film XXL itu dirinya memadukan tema ketidakpercayaan diri dengan isu hubungan antar etnis sehingga konflik yang ditampilkan lebih luas cakupannya.

Film tersebut dibuka dengan kisah Mak Siat yang baru selesai menjalani masa hukuman penjara dan bertekad untuk menaikkan pamornya yang sempat jatuh dengan cara membesarkan alat kelamin pria hingga ukuran yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sementara itu, seorang pemuda biasa bernama Kasep (Aming) didaulat memimpin sejumlah preman tua yang tergabung dalam geng Barudak Lieur guna menggantikan posisi ayahnya (Candil) dalam menghadapi geng saingan mereka Wong Kenthir yang dipimpin oleh Soemanto (Dwi Sasono).

Namun, Kasep merasa rendah diri dan tidak yakin menjadi seorang pemimpin geng karena ukuran alat kelaminnya tidak menunjang sehingga harus berobat kepada Mak Siat. Sementara itu, alur cerita akan berkembang pada adegan ketika Kasep jatuh hati pada Melati (Mey Chan) adik kandung Soemanto.

Yang menarik dalam film ini adalah pendatang baru Mey Chan, personil Duo Maia. MeyChan mengaku penampilannya di ‘XXL-Double Extra Large’ sangat berbeda dengan kesehariannya. Ia pun mendapat tantangan baru di dunia film.

MeyChan berakting sebagai Melati. Ia pun beradu akting dengan beberapa aktor-aktris yang sudah berpengalaman. Di antaranya, Aming, Meriam Bellina dan Dwi Sasono.

Kekuatan cerita yang berhasil di visualisasikan oleh Ivander Tedjasukmana tidak terlepas dari sosok yang membesut film sebelumnya, XL. Ya, Monthy Tiwa yang berhasil menurunkan ilmunya kepada anak didiknya, Ivander, kali ini bertugas mengemas cerita.

Maka dari itu tidak dapat dipungkiri jika film ini bisa disebut sebagai film berkualitas dan layak tonton. Tanpa esek-esek, tanpa wanita seksi, dan tanpa setan-setanan, murni komedi segar disajikan untuk Anda.

Jadi jika Anda sudah lama tidak tertawa puas, atau Anda sedang butuh media untuk merelaksasikan diri jauh dari berita politik yang rada negebosenin, silahkan kunjungi bioskop terdekat, mumpung filmnya masih diputar.

Bagi yang sudah nonton….. silahkan dishare dikotak komentar ….

Iklan

3 DOA 3 CINTA

3 doa 3 cinta

Film Indonesia “3 Doa 3 Cinta” yang sudah dirilis setahun yang lalu ini nampaknya sudah dilupakan karena waktu putarnya di bioskop pada bulan Desember 2008, tapi sejak kemarin… Film ini kembali diberitakan oleh beberapa media cetak dan eletronik.

Pesantren adalah subkultur? Bisa jadi pernyataan Abdurrahman Wahid beberapa dekade lalu itu ada benarnya. Namun Nurman Hakim tak repot dengan itu. Film 3 Doa 3 Cinta yang disutradarainya ini terasa dibuat tanpa ambisi berlebih dan seakan berkata: ‘ini adalah pesantren yang saya kenal dan saya tak terlalu peduli pada definisi dan segala anggapan tentangnya’. Namun dengan bicara itu, ternyata Nurman Hakim bicara tentang sesuatu yang lebih besar: Islam di Indonesia.

Film ini meluruskan pandangan pihak luar terhadap dunia pesantren yang terlanjur diberi stereotype sarang teroris dan cap negatif lainnya. kata sutradara yang juga pernah mondok di sebuah pesantren di kawasan Demak.

Film Indonesia “3 Doa 3 Cinta” kembali masuk nominasi bersaing dengan empat film karya sineas Selandia Baru/Jerman, India, Korea Selatan/Prancis, dan Turki untuk memperebutkan kategori film feature terbaik anak-anak pada Festival Film Asia Pasifik (Asia Pacific Screen Awards/APSA) 2009.

Dalam festival film yang berlangsung di Hotel Marriott, Gold Coast, Australia, film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra tersebut masuk nominasi bersama film “The Strength of Water” (Kekuatan Air) dari Selandia Baru/Jerman, “Tahaan” (India), “Ye Haeng Ja” (Korsel/Prancis), dan “Mommo-Kizkardesim” (Turki).

Minister Counselor Fungsi Pensosbud KBRI Canberra, Raudin, yang hadir memberikan dukungan moril kepada karya sineas Indonesia yang masuk nominasi di festival film Asia Pasifik itu mengatakan, para pemenang diumumkan Kamis malam.

Selain kategori film feature anak-anak terbaik, “APSA” 2009,ada delapan kategori lain, yakni film feature terbaik, film feature animasi terbaik, aktris terbaik, aktor terbaik, film feature dokumenter terbaik, pencapaian dalam penyutradaraan, skenario terbaik, dan pencapaian dalam sinematografi.

Dalam setiap kategori terdapat lima film yang masuk nominasi. Film-film itu dinilai sebuah tim yang terdiri dari Huang Jianxin (ketua), Tahmineh Milani (Iran), Pryas Gupta (India), Gina Kim (Korea Selatan), Andrew Pike (Australia) dan Aden Young (Australia).

Selain karya insan perfilman Indonesia, APSA 2009 yang penyelenggaraannya didukung pemerintah negara bagian Queensland, Stasiun TV “CNN”, dan Badan PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) itu juga diikuti film-film dari Australia, China, Iran, Jepang, dan Rusia.

Pada APSA 2007, film Indonesia yang disutradari Ari Sihasale, “Denias, Senandung di Atas Awan” merupakan pemenang kategori film feature anak-anak terbaik.

Sebelumnya, Film 3 DOA 3 CINTA berhasil lolos dalam official selection competition di Dubai Internasional Film Festival yang diselenggarkan 9 hingga 18 Desember 2008 setahun lalu.

Film ini, terpilih dari 1800 film dari berbagai dunia yang diterima oleh panitia festival saat itu. “Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, karena sebelum dirilis di negeri sendiri, film ini sudah lolos dalam berbagai festival film Internasional.. sebelum lolos seleksi di official selection competition di Dubai Internasional Film Festival, film ini juga diputar di Pusan Internasional World Premiere bulan Oktober lalu.

Dan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri untuk film yang proses penggarapan skenarionya memakan waktu 3 tahun lebih. Bahkan skenario film ini berhasil mendapatkan script development grant dari Global Film Initiative di San Fransisco, USA; Goteborg International Film Festival Fund dari Swedia dan Fond Sud Cinema dari Perancis. Dan pada bulan Mei lalu film 3 DOA 3 CINTA diundang dan diputar di Cannes Film Festival di Perancis.

Kita patut mengacungkan jempol buat Sang Sutradara Nurman Hakim

Meskipun mengangkat realita kehidupan tiga orang santri di lingkungan pesantren, sang sutradara, enggan menyebut bahwa film ini adalah sebuah film religi seperti AYAT-AYAT CINTA.

Ia mengatakan, jika di film-film religi Indonesia selalu menampilkan tokoh atau pemeran utama yang ‘suci’ atau ‘sempurna’. Hal itu, berbanding terbalik dengan film 3 DOA 3 CINTA. Film ini malah memvisualisasi tokoh utama sebagai seorang manusia yang biasa yang tak luput dari dosa namun tinggal di sebuah pesantren.

Film ini berkisah tentang tiga sahabat, Huda, Rian dan Syahid, tiga remaja yang tinggal di pesantren di sebuah kota kecil yang terletak di daerah Jawa Tengah. Mereka punya rencana dalam hidup mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren dan SMA sebulan lagi. Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di mana mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding. Hingga sebuah situasi merubah hidup mereka

Huda (Nicholas Saputra), ingin mencari ibunya yang kabarnya berada di suatu tempat di Jakarta. Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastrowardoyo) seorang penyanyi dangdut pemula yang sangat seksi ketika di panggung dan terobsesi menjadi bintang terkenal di Jakarta. Diantara mereka tertanam benih-benih asmara

Rian (Yoga Pratama) santri dari suatu kota besar. Dia mendapatkan sebuah kado handycam dari ibunya pada saat ulang tahunnya. Rombongan pasar malam terutama layar tancap yang kebetulan sedang singgah di desa itu membuat Rian semakin obsesif terhadap kamera.Rian ingin melanjutkan usaha Ayahnya

Syahid (Yoga Bagus), berasal dari keluarga miskin. Ayahnya sakit keras. Syahid merencanakan sesuatu yang besar dalam hidupnya yang akan memberikan dampak bagi kedua temannya.

Bagaimana kehidupan mereka bertiga dan terwujudkah segala impian dan harapan mereka yang pernah mereka tulis di tempat rahasia itu? untuk mengetahui kelanjutan ceritanya,… silahkan berkunjung KESINI

JAMILA DAN SANG PRESIDEN

jamilaMeskipun Film ini sudah lama diputar serempak di bioskop, namun awal November ini kembali jadi sorotan, karena Film “Jamila dan Sang Presiden” besutan Ratna Sarumpaet ini berhasil meraih NETPAC Award pada festival Asiatica Film Mediale yang berlangsung di Roma sejak 29 Oktober.

Dalam wawancaranya pagi tadi di salah satu stasiun TV swasta, Ratna Sarumpaet mengatakan “Jamila dan Sang Presiden” mengalahkan karya film unggulan dari negara-negara Asia lainnya, diantaranya, China, Jepang, Korea, India, Iran, Thailand dan Vietnam.

Selain meraih penghargaan The Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC) juga terpilih untuk mewakili Indonesia pada kompetisi Piala Oscar pada bulan Februari 2010.

Sebelum berlaga di Oscar, “Jamila & Sang Presiden” akan mengikuti Asia-Pacific Film Festival di Sydney, Australia dalam waktu dekat.

Dikatakannya, NETPAC Award diberikan kepada film-film terbaik Asia saat acara penutupan festival Asiatica Film Mediale di Cinema Capricana, Roma .

NETPAC merupakan organisasi yang mewakili para kritikus, produser, distributor, curator, eksibitor, dan edukator yang bergerak di dunia perfilman.

NETPAC bertujuan untuk memajukan perfilman di kawasan Asia, dan telah dianggap oleh dunia sebagai otoritas yang sangat berkompeten dalam perfilman Asia.

Dewan juri yang diketuai kritikus film sangat disegani di Jepang Tadao Sato menilai keunggulan “Jamila & Sang Presiden” bukan saja terletak pada aspek artistik dan originalitasnya tetapi juga pada ketajaman kritik sosial dalam memotret kondisi sosial dan kemasyarakatan di Indonesia.

Ide cerita JAMILA DAN SANG PRESIDEN berawal dari tiga tahun yang lalu, UNICEF meminta Ratna Sarumpaet, sutradara teater handal yang juga aktivis perempuan, untuk menjalankan sebuah penelitian mengenai woman trafficking di Indonesia.

Ratna berkelana ke Batam, Solo, Indramayu, Surabaya, dan kota-kota di Kalimantan, merekam beragam cerita dari ratusan ribu korban perempuan yang kemudian disatukannya dalam sebuah pementasan teater yang sangat membuka mata. Dua ratus ribu anak di bawah umur diperdagangkan di Indonesia setiap tahunnya untuk alasan yang sangat menyedihkan, kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

“Sebuah refleksi yang diharapkan dapat membuka mata masyarakat betapa masalah ini adalah masalah amoral yang datang dari kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, keserakahan dan lemahnya penanganan hukum,” ungkap Ratna dalam rilisnya.

Jamila dan Sang Presiden dibintangi oleh beberapa actor antris senior antara lain, Christine Hakim, Ria Irawan, Ade Irawan, Dwi Sasono, Surya Saputra, Fauzi Baadillah, Atiqah Hasiholan, Adji Pangestu serta Melissa Karim.

Jamila dan Sang Presiden berkisah mengenai Jamila, seorang anak perempuan berusia enam tahun yang lahir di tengah kehidupan masyarakat di mana menjual atau menggadaikan anak untuk dijadikan pelacur adalah hal yang biasa. Alhasil Jamila dijual oleh sang ayah di usianya yang masih enam tahun.

Namun ibu Jamila berhasil merebut kembali Jamila dari mucikarin dan menitipkannya di rumah keluarga Wardiman, sebuah keluarga terhormat di Jakarta. Di rumah ini Jamila hidup berkecukupan dan tentram, hingga sampai akhirnya masalah muncul ketika Jamila beranjak dewasa.

Tanpa setahu Bu Wardiman, setiap malam Jamila telah menjadi budak seks yang dipakai secara bergiliran oleh Pak Wardiman dan Hendra, putra mereka hingga hamil. Akhirnya dia membunuh lelaki-lelaki tersebut dan melarikan diri.

Dalam pelariannya, dia tak lepas dari pria-pria yang tertarik hanya pada tubuhnya. Hingga akhirnya dia melarikan diri lagi. Apesnya saat melarikan diri berbarengan dengan adanya razia WTS. Karena dia pun sedang berlari-lari, akhirnya dia ikut dibekuk. Peristiwa inilah yang membuahkan perkenalannya dengan Susi (Ria Irawan).

Setelah ditahan, Jamilah juga dikaitkan dengan terbunuhnya seseorang dari gembong perdagangan wanita di Kalimantan. Ternyata pembunuhan ini memang terkait dengan Jamila, saat dia melakukan pelacakan keberadaan adiknya, Fatimah yang menjadi korban perdagangan anak perempuan. Fatimah dijadikan pelacur kecil yang merangkap menjadi pengedar narkoba ke pelanggannya.

Jamila memang dengan mudah membunuh sejak dirinya dinodai, maka dari itulah ketika dijatuhi hukuman mati dia tidak ingin minta grasi karena dia tidak ingin jika dirinya bebas dia dengan mudah membunuh lagi.

Padahal sang pengacara yang yang disewa oleh Ibrahim sudah menjelaskan jika tidak mengajukan grasi, Jamilah akan dijatuhi hukuman mati kecuali jika presiden berinisiatif memberikan grasi. Namun di luar sana juga banyak demonstrasi, entah itu demonstrasi yang dipolitisir oleh suatu front yang mengatasnamakan agama. Front tersebut menuntut hukuman mati bagi Jamilah, karena Jamilah dianggap telah melakukan dosa besar dengan melakukan pembunuhan dan menjadi pelacur. Tak ada yang peduli alasan yang menjadikan Jamila menjadi sosok tersebut.

Ria, sipir penjara Jamilah yang semula juga bertindak keras terhadap Jamila lama kelamaan pun menjadi lunak setelah membaca catatan harian Jamilah dan melihat keteguhan hati Jamila yang sama sekali tak peduli akan dihukum mati dengan tidak meminta pengampunan.

Menjelang ending penonton baru disuguhi bagaimana praktek perdagangan manusia itu dilakukan. Sayang justru isu yang cukup berbobot ini hanya mendapat porsi sangat kecil. Selama film berlangsung, rasa penasaran yang digarap hanyalah penyebab kenapa Jamila sampai membunuh menteri dan siapa itu Ibrahim.

Walaupun ternyata pembunuhan terhadap menteri hanyalah persoalan klise seorang wanita yang dikhianati, itu pun pembunuhan bela diri karena sang menteri sendiri yang tadinya mengarahkan pistol ke Jamila.

Film Indonesia yang juga pernah menerima NETPAC Award adalah “Bird Man Tale” karya Garin Nugroho pada Berlin International Film Festival tahun 2003,

RUMA MAIDA

ruma maidaSejarah adalah kata yang “kering” yang cenderung termarginalkan di mata dunia pendidikan kita saat ini. Isinya melulu tentang tanggal dan hafalan tanpa makna. Generasi kita butuh penyegaran untuk senantiasa menjadi pengingat dalam keterlenaan bangsa ini dalam melihat sejarah.
Mungkin kita pernah membaca ungkapan Milan Kundera, sastrawan Ceko, pemenang Nobel Kesusastraan. Ia berkata,”Langkah pertama untuk memusnahkan suatu bangsa cukup dengan menghapuskan memorinya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya dan sejarahnya, maka tak lama setelah itu, bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau. Dunia sekelilingnya bahkan akan melupakannya lebih cepat”.

Kalimat Kundera ini sangat dengan kalimat , ”Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” Rangkaian kata-kata yang lebih dikenal dengan istilah ‘Jas Merah’ . Kalimat yang begitu melegenda dicetuskan oleh Putra Sang fajar ‘Soekarno’, tatkala dilengserkan dari tampuk kekuasaanya sebagai presiden RI pertama.

Respons dan persepsi rakyat Indonesia beragam, ada yang memperhatikan dan mempelajarinya secara serius, ada yang sekedar tahu lalu EGP ( emang gue pikirin…)….. dan nampaknya Teddy Soeriaatmadja terusik dengan kalimat Kundera dan Bung Karno, bersama Ayu Utami yang menjadi penulis naskah skenario, Teddy menjadikan pijakan semangat untuk tidak melupakan sejarah tadi lewat sebuah film yang diberi judul “Ruma Maida”. dengan menggandeng Pemain:

Atiqah Hasiholan … Maida
Yama Carlos … Sakera
Davina Veronica Hariadi … Ratu
Imelda Soraya … Nani Kuddus
Nino Fernandez … Ishak Pahing
Wulan Guritno … Bertha
Verdy Solaiman … Kolonel Maruyama
Frans Tumbuan … Dasaad Muchlisin
Hengky Solaeman … Kuan
Imam Wibowo … Bung Karno
Rizal Edwin Manangsang … Bung Hatta

Maida, gadis kikuk dan cuek yang idealis, yang mengelola sekolah bagi anak jalanan di sebuah bangunan tua yang terbengkalai.

Setelah dua tahun bergelut bersama anak-anak jalanan, memberikan pendidikan, Maida harus menghadapai kenyataan pahit. Rumah tempat mereka bernaung akan segera dihancurkan untuk kemudian dibangun pusat pertokoan. Maida dan sekolah liarnya terancam terusir.

Maida berjuang keras untuk mempertahankan sekolahnya. Tak ada celah untuk menghindar membuat gadis itu gusar dan beringas, insinyur pembangun rumah tersebut dihadapinya dnegan ketus. Adalah Sakera (Yama Carlos), sang insinyur yang rupanya juga mantan seorang aktivis semasa kuliahnya, tertarik dengan kegiatan yang dilakoni Maida.

Setelah serangkaian kesalahpahaman, mereka akhirnya sepakat sama-sama berupaya mempertahankan sekolah tersebut. Dalam perjuangannya, Maida justru menyibak misteri rumah tua tersebut. Bangunan itu adalah saksi bisu atas kisah cinta yang syahdu dan tragis antara dua insan di tengah perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Alur cerita mulai berputar ke masa lampau dan kembali ke kenyataan sekarang. Penonton harus cermat mengenang waktu dan sejarah kebangsaan kita agar tidak kehilangan alur cerita. Tokoh lain yang penting dalam film ini adalah Bung Karno. Dalam film ini Bung Karno digambarkan bukan sebagai orator yang ulung. Tapi sebagai negosiator yang memiliki apresiasi seni yang tinggi.

Selain itu, kita akan dibuai dengan beberapa soundtrack dari grup band Naif dengan mengaransemen ulang lagu-lagu Juwita Malam, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, dan Ibu Pertiwi selain lagu Keroncong Tenggara yang diciptakan Ayu Utami dan dinyanyikan langsung oleh pemeran Nani Kuddus (Imelda Soraya).

Nani adalah garis penghubung Bung Karno dengan tokoh imajiner dalam cerita Ruma Maida. Selain tokoh sejarah yang sudah terkenal, tokoh baru seperti Ishak Pahing (Nino Fernandez), Nani Kudus adalah imajiner. Karakter yang sengaja dimunculkan Ayu Utami untuk menunjukkan sisi lain Bung Karno.

Rumah tempat Maida mengajar, konon, adalah rumah di mana Bung Karno sering berbincang dengan Iskak Pahing dan keluarga.

Film ini bukan sekedar memberi hiburan yang bermutu. Selain lokasinya yang menarik di kota tua Jakarta dan Semarang, kualitas akting jebolan teater juga menghidupkan film ini. Bahkan jika Anda termasuk orang yang kurang peduli sejarah, bisa-bisa Anda menangkapnya sebagai kebenaran sejarah. Padahal tidak seluruhnya benar-benar pernah terjadi.

RUMA MAIDA percaya bahwa masih banyak anak-anak muda yang ingin meneruskan cita-cita mulia para pelopor bangsa, yakni mencerdaskan bangsa dan hidup damai berdampingan dengan semangat bhinneka tunggal ika.

~~~000oooo000~~~

Postingan ini saya peruntukkan buat anak-anakku yang tergabung dalam ‘SMANSALILIRIAJA BLOGGER COMMUNITY’, agar senantiasa dapat mempelajari sejarah, bukan cuman melalui bangku sekolah yang jumlah beban belajarnya semakin sedikit, dan jangan dibuai dengan kehadiran film-film horor dan sinetron cengeng.

Sumber : KapanLagi.com

SERIGALA TERAKHIR MAFIA INDONESIA

Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Anas Urbaningrum, menyerukan pembersihan mafia dari semua lembaga hukum di Indonesia.

Kasus dua pimpinan nonaktif KPK harus menjadi momentum pembenahan wajah penegakan hukum Indonesia. ”Para pimpinan lembaga-lembaga (penegakan hukum) tersebut tersebut harus benar-benar berkomitmen membersihkan lembaganya,” kata Anas dalam jumpa pers kemarin..

Mafia, ujar dia, harus hilang dari Polri, Kejaksaan, Pengadilan, dan KPK. Kasus terakhir terkait dua pimpinan nonaktif KPK, kata Anas, justru harus dijadikan momentum untuk benar-benar mendirikan martabat dan kehormatan lembaga penegak hukum.

Istilah Mafia nampaknya sudah melekat di bumi Indonesia, bahkan sudah menjadi predikat bagi oknum pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan.

Sedangkan bagi-bagi kalangan anak-anak, banyak yang sudah mengenal istilah ini, karena salah satu game Online yang banyak digemari di Facebook adalah ‘MAFIA WAR’

Kalau kita telusuri makna Mafia yang sebenarnya sesuai dengan pengertian yang terdapat di Wikipedia :

Mafia, dirujuk sebagai La Cosa Nostra (bahasa Italia: Hal Kami), adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi rahasia di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang orang-orang di Sisilia masuki pada Abad Pertengahan untuk tujuan perlindungan dan penegakan hukum sendiri (main hakim). Konfederasi ini kemudian mulai melakukan kejahatan terorganisir.

Anggota Mafia disebut “mafioso”, yang berarti “pria terhormat”.

Mafia melebarkan sayap ke Amerika Serikat melalui imigrasi pada abad ke-20.

Kekuatan Mafia mencapai puncaknya di AS pada pertengahan abad ke-20, hingga rentetan penyelidikan FBI pada tahun 1970-an dan 1980-an agak mengurangi pengaruh mereka. Meski kejatuhannya tersebut, Mafia dan reputasinya telah tertanam di budaya populer Amerika, difilmkan di televisi dan bahkan iklan-iklan.

Istilah “mafia” kini telah melebar hingga dapat merujuk kepada kelompok besar apapun yang melakukan kejahatan terorganisir

Kita tidak perlu membahas terlebih jauh tentang Mafia, yang penting kita tidak terlibat dalam salah satu kelompok terselubung yang bertujuan melakukan kejahatan yang terorganisir seperti yang sedang mengemuka sekarang ini.

Kalaupun anda tergolong penggemar film yang bertema action, tidak ada salahnya nonton Film ‘SERIGALA TERAKHIR’ yang serentak di putar di beberapa bioskop dalam minggu ini.(kayaknya nggak nyambung nih dengan pembuka postingan.

Berawal dari persahabatan 5 pemuda, Ale (Fathir), Jarot (Vino G Bastian), Lukman (Dion Wayoko), Sadat (Ali Syakieb), dan Jago (Dallas Pratama). Umur yang masih muda, membuat mereka sangat berambisi dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Ale yang terlihat memiliki jiwa kepemimpinan, dianggap sebagai leader kelompok ini.

Suatu hari dalam pertandingan sepak bola, mereka terlibat perseteruan dengan kelompok lain. Ale saat itu sedang terdesak, namun Jarot datang menyelamatkannya. Sayang, secara tak sengaja Jarot menusuk lawan dengan pisau. Ale dkk yang panik melihat korban jatuh bersimbah darah, langsung meninggalkan Jarot sendirian.

Akibat perbuatannya, Jarot harus mendekam di dalam penjara seorang diri. Tak ada satu pun sahabat-sahabatnya yang mau peduli. Ia pun merasa telah dikhianati teman-temannya sendiri. Perasaan kecewa dan sakit hati membuat Jarot ingin membalas dendam.

Selepas dari penjara, ia langsung bergabung dengan kelompok Naga Hitam yang notabene musuh dari kelompok Ale dkk. Permasalahan pun semakin rumit. Mulai dari Jarot yang tidak sengaja bertemu adik Ale, Aisya (Fanny Fabriana), perempuan yang dulu pernah ia cintai, hingga perdagangan narkoba antar dua kelompok ini.

Film dengan tema gangster mungkin baru SERIGALA TERAKHIR yang cukup menonjol. Upi Avianto sebagai sutradara cukup berani membuat film seperti ini, mengingat negara kita tidak terlalu terkenal dengan kelompok-kelompok mafia semacam ini.


Lihat Trailer Lainnya

Dengan durasi film selama 135 menit, film menjadi sedikit membosankan. Beberapa adegan drama dibuat lambat, sehingga cenderung membuat penonton sedikit bosan. Namun hal itu tertutupi dengan adegan action yang apik dan akting Vino sebagai Jarot yang cukup menawan. Ia mampu mengekspresikan rasa kecewa dan sakit hatinya akibat dikhianati dengan baik.

Sumber dari sini