Profil Sudwikatmono


SUDWIKATMONO

Inilah sosok Sudwikatmono (76), paman Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto yang meninggal dunia pukul 06.30 waktu Singapura, saat masih dirawat secara intensif di RS Mount Elizabeth.

Sudwikatmono adalah adalah saudara sepupu Pak Harto. Pak Dwi, demikian panggilan akrabnya. Pak Harto (Presiden Soeharto waktu itu) mengikutsertakan Pak Dwi dalam jajaran pengusaha besar yang kerap diberi julukan ’konglomerat’ ini untuk secara bersama dengan pengusaha kakap lainnya membantu mengentaskan kemiskinan melalui satu wadah bernama Yayasan Damandiri (Dana Sejahtera Mandiri).

“Kami berkumpul dalam satu wujud kesadaran untuk membantu pemerintah melalui Yayasan Damandiri dalam pengentasan kemiskinan,” kata Sudwikatmono pelan.

Meski kondisi lelaki kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 28 Desember 1934 sudah berbeda dengan saat sepuluh tahun lalu, namun masih sangat jelas dalam merunut kiprah dan aktivitasnya dalam Yayasan Damandiri.

“Arahan Pak Harto waktu itu kepada orang-orang yang dipercayanya untuk menjalankan yayasan-yayasan tersebut beliau langsung yang menunjuk kami. Kemudian Pak Harto memberikan intruksi. Ini semua adalah kesadaran atas kami yang ditunjuk sebagai pengurus guna membantu pemerintah supaya persoalan kemiskinan bisa terus ditekan,” papar raja sinepleks Teater 21.

Prestasi sebagai pengusaha yang sempat diraihnya, mulai dari pendiri PT Bank Surya, Komisaris PT Bogasari Flour Mills, Komisaris PT Indofood Sukses Makmur, Komisaris PT Indika Entertainment, bukan saja tahu yayasan-yayasan lain selain Yayasan Damandiri yang menempatkan dirinya sebagai salah seorang tokoh pendiri dari yayasan tersebut.

Mulai berbisnis sejak tahun 1957. Awalnya ekspor kulit yang bau itu. Sebelumnya, waktu sekolah, malah sempat jual sepeda bekas. Ia membeli hanya Rp 200, kemudian diperbaiki habis Rp 500, lalu dijual seharga Rp 1.200. Untungnya buat kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM. Tapi lama-lama tidak sanggup.

Baru tingkat dua ibunya sudah sambat soal biaya, terlebih Bapaknya sudah pensiun. Ibu hanya terima uang dari sewa kamar kos. Bahkan ia sampai satu kamar dengan anak kos. Tapi prinsipnya tidak mau minta kakak-kakaknya, walaupun sebenarnya bisa. Ia mau cari sendiri.

Sebagai pengusaha sukses tentu tidak harus tampil sendirian membangun kerajaan bisnisnya, tapi acap kali pula Sudwikatmono bermitra dengan tokoh pengusaha sukses lainnya. Sebagai pengusaha besar tidak membuat Sudwikatmono pongah. Ia tetap seorang warga negara yang baik sejak dulu. Ia pun pernah mendukung imbauan Presiden Soeharto untuk menertibkan operasi pasar swalayan besar di Dati II agaknya memang realistis. Buktinya, instruksi itu juga ditanggapi secara positif oleh pengusaha pasar swalayan raksasa ini.

Padahal saat itu muncul beragam asumsi penilaian mulai dari apakah instruksi itu tidak akan mengganjal ekspansi usahanya, atau barangkali dia punya skenario khusus untuk menyiasati instruksi itu? “Pembatasan usaha ritel saya kira merupakan langkah tepat. Terutama untuk pengembangkan pengusaha ritel lokal. Sebab, untuk ritel besar masih cukup besar peluangnya melakukan ekspansi di kota-kota propinsi,” kata sosok yang pernah merasakan menjadi Presdir Indofood Sukses Makmur sekaligus pemilik Golden Truly.

Pemikirannya yang arif tersebut kala itu memang mengandung kebijakan dan membangun peluang bagi pengusaha lokal untuk mengembangkan usaha sebagai upaya mendukung perekonomian daerah dan masyarakat. Pun ia berpikir agar pengusaha besar jangan hanya mengandalkan Jakarta. Bahkan jika perlu ekspansi ke luar negeri, terutama ke negara-negara yang berpeluang untuk dimasuki ritel Indonesia. Pengusaha, harus kreatif dan inovasi dalam ekspansi usaha dan tidak menyerah karena adanya peraturan-peraturan tertentu.

Diperjalanan usia memasuki usia 72 tahun, Sudwikatmono tetap masih memikirkan nasib bangsanya yang masih banyak berada di bawah garis kemiskinan. “Itulah tugas sekaligus yang menjadi perhatian besar dari Yayasan Damandiri yang diketuai Pak Harto,” tukas Pak Dwi.

Dalam perjalanannya mengentaskan kemiskinan bersama Yayasan Damandiri, selaku salah satu anggota tokoh pendiri, Sudwikatmono menilai, “Kalau menurut pandangan saya belum mencapai target, tapi sudah tepat sasaran. Hal ini karena Presidennya (pemerintahannya) ganti-ganti terus, sehingga tidak ada yang memikirkan yayasan yang digagas Pak Harto sebagai Presiden yang kedua Republik Indonesia,” kilah pengusaha yang setelah pindah dari Menteng ke Simpruk dan sekarang di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Itu sebabnya, kata tokoh pengusaha yang kesehatannya sudah mulai terganggu ini, sampai sekarang kemiskinan bukannya menurun tapi justru meningkat. Itu kenyataan. Tapi Damandiri berusaha tetap meneruskan cita-cita yang dahulu. Kita tidak boleh melupakan jasa-jasa presiden yang dulu, tapi sekarang harus dikembangkan lagi untuk masa depan yang lebih baik.

Sebagai salah satu tokoh pendiri Damandiri, ia berharap meskipun kinerja Yayasan ini tidak tergantung dari pemerintah, sebab Damandiri telah memiliki program kegiatan program pengentasan kemiskinan, maka pemerintah perlu mendukungnya. Demikian juga dengan yayasan yang diketuai Pak Harto lainnya, yang sifatnya betul-betul sosial membantu rakyat-rakyat yang miskin dan rakyat yang kekurangan fasilitas.

“Tujuannya kan baik, membantu mereka yang membutuhkan agar dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya,” kata Pak Dwi, seraya melanjutkan, “bukankah membantu orang-orang yang susah dan membutuhkan itu merupakan perbuatan baik dan diridhoi Tuhan. Membangun sebanyak-banyaknya kebajikan selama masih hidup. Buka mata buka hati, ringankan tangan untuk terus membantu sesamanya. Santun dalam mengelola usaha tapi juga harus ramah berderma”.

Demikian beberapa saran bijak disampaikan dari Pak Dwi…

 

Source : http://www.tribunnews.com/

Iklan

Posted on 8 Januari 2011, in Berita and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. sejak pak harto lengser namanya juga jarang terdengar ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: