Simpati untuk Bilqis, Peti buat Koruptor


BILQIS ANINDYA PASSA (19 bulan) hanyalah orang biasa, seperti bayi lain pada umumnya, yang menderita penyakit hingga pada saatnya dipanggil oleh-Nya.

Putri pasangan Doni Ardiantha Passa dan Dewi Farida tersebut menderita atresia bilier (saluran empedu tidak terbentuk), dan meninggal sebelum dioperasi oleh tim cangkok hati RSUP dr Kariadi, Semarang, Sabtu (10/4), setelah paru-paru dan darahnya terserang bakteri ganas.

Yang kemudian membedakan Bilqis dengan bayi-bayi lainnya adalah perhatian dan dukungan dari masyarakat yang begitu besar kepada Bilqis, sebelum dan sesudah ajal menjemputnya.

Tak hanya dukungan dalam bentuk doa dan simpati, tetapi juga bantuan dana  secara langsung. Masyarakat dari berbagai pelosok di tanah air terketuk hatinya untuk membantu operasi cangkok hati untuk Bilqis, hingga terkumpul uang sekitar Rp 1 miliar.

Kini Bilqis, sang bidadari kecil, telah terbang ke haribaan-Nya, menuju kedamaian abadi di surga. Ia tak perlu lagi merasakan sakit akibat kelainan fungsi empedu yang terus menghimpit kesehariannya.

Kepergiannya telah diikhlaskan oleh kedua orangtuanya, dan tentunya oleh kita semua yang sejak awal merasa terenyuh atas nasib yang dialaminya. Kepergian yang sejatinya merupakan jalan terbaik bagi dia, jalan yang telah ditentukan-Nya, yang akan membukakan pintu surga di atas sana.

Perhatian dan dukungan yang begitu luas dan besar terhadap  upaya menghapus penderitaan Bilqis, yang disalurkan dalam beragam bentuk, patut menjadi catatan tersendiri.

Gerakan sosial semacam itu telah menjadi ciri tersendiri di dekade pertama abad ke-21 ini. Masyarakat, tanpa perlu terikat dalam suatu pranata formal, bisa bersatu untuk satu tujuan, dan mengerahkan segala sumberdaya yang mereka miliki. Yang mampu menyumbangkan sebagian penghasilan, yang tak mampu cukup memanjatkan doa dan menunjukkan simpati. Saluran pun tak selalu formal. Di jejaring sosial facebook, misalnya, dukungan untuk Bilqis membanjir luar biasa.

Hal yang sama juga pernah terjadi saat Prita Mulyasari (32), karyawati bank swasta di Jakarta, menjadi tersangka dalam kasus pencemaran nama baik RS Omni International, hanya gara-gara menulis e-mail berisi keluhan atas pelayanan rumah sakit. Ia sempat menghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, sebelum ditangguhkan penahanannya.

Kasus Prita mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat, antara lain terungkap di jejaring sosial facebook. Dukungan masyarakat dalam bentuk bantuan dana secara langsung juga luar biasa. Jumlah yang terkumpul melalui Koin Peduli Prita, bantuan langsung tunai, dan cek mencapai Rp 810.940.402. Suatu jumlah yang tak sedikit.

Besarnya partisipasi dan dukungan masyarakat terhadap hal-hal yang terkait dengan ketidakberdayaan dan ketidakadilan, menggugah kita bahwa sesungguhnya bangsa ini masih punya hati yang bersih, masih punya nurani yang peduli.

Terhadap kasus-kasus ketidakberdayaan (Bilqis) dan ketidakadilan (Prita) masyarakat bisa bersatu dalam suatu gerakan sosial tanpa perlu campur tangan pemerintah atau lembaga formal lainnya, bahkan tak perlu digerakkan oleh partai politik sekalipun.

Hal ini bertolak belakang dengan tindakan kotor yang dilakukan sekelompok orang, yang harus diakui juga merupakan bagian  dari bangsa ini. Duit yang sejatinya dari rakyat, dan seharusnya dikembalikan juga kepada rakyat melalui kegiatan pembangunan, justru dilahap dengan rakus.

Di sini ada Gayus Tambunan yang bersama rekan-rekannya di Ditjen Pajak “bersinergi” degan aparat kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Ada pula Bahasyim Assifii, dan ada segerombolan orang lainnya yang juga melakukan perbuatan kotor yang sama: mengorupsi uang rakyat. Sungguh, mereka tak layak mendapat simpati, tetapi peti. Itu kalau DPR kita berani mengegolkan hukuman mati bagi para koruptor itu.

Bilqis kini telah “hidup” tenang di sisi-Nya. Semoga perjuangannya menahan rasa sakit selama 19 bulan usianya menjadi teladan bagi kita semua. Sesakit apapun yang kita rasakan, itu bukanlah akhir dari segalanya.

Iklan

Posted on 12 April 2010, in Berita, Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: