FENOMENA BUNUH DIRI


Kini fenomena kasus bunuh diri khususnya yang terjadi di tanah air cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan cara dan faktor penyebab atau pemicu yang beragam dan semakin memperihatinkan. Bahkan perilaku bunuh diri dewasa ini cenderung dilakukan di tempat-tempat terbuka, seperti pusat perbelanjaan dan hotel.
Para pelaku bunuh diri itu tidak melulu dari kalangan bawah yang terimpit secara ekonomi. Sebagian besar justru berasal dari kalangan berkecukupan ataupun terpelajar.

Memang belum diperoleh data pasti. Namun, berdasarkan pemberitaan di media massa, kesimpulan itu tampaknya tak terlalu berlebihan.

Basti Tetteng, seorang Pengamat Psikologi Sosial Universitas Negeri Makassar pernah mengatakan, “Negeri kita sedang sakit. Bahkan sudah pada tahapan kronis. Tak hanya wabah penyakit dan aneka modal transportasi saja yang menjelma menjadi mesin pembunuh. Masyarakat bahkan tak perlu lagi menanti datangnya malaikat maut pencabut nyawa. Karena di negeri ini banyak bertebaran jiwa-jiwa sakit yang setiap saat bisa menjelma menjadi monster pencabut nyawa”

Merampas paksa nyawa orang lain, termasuk orang yang dicintainya bahkan merenggut nyawa sendiri merupakan pemandangan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari. Pada hari senin tanggal 1 Februari kemarin kembali kita disuguhkan sebuah berita tentang seorang pria yang melompat dari Lantai 7 ke atrium gedung Thamrin Plaza Medan, Pria bernama Romi, 25 tahun, itu tewas setelah mengalami pendarahan di bagian kepala.

Dari berbagai sumber yang saya baca, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahunnya satu juta kematian karena bunuh diri. Setiap 40 menit diperkirakan terjadi satu kasus bunuh diri di dunia, dan di Indonesia menurut WHO sedikitnya 30.000 orang bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan kurang lebih 82 orang Indonesia melakukan bunuh diri perharinya.

Bunuh diri adalah segala perbuatan yang disadari untuk mengakhiri hidup diri sendiri (Mental Health Nursing Practice, 1995). Bunuh diri dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah minum obat/racun, lompat/terjun dari ketinggian, dan bakar/gantung diri dan lain-lain sebagainya.

Faktor penyebab orang melakukan bunuh diri menurut para ahli psikologi di antaranya adalah faktor gangguan mood (suasana hati), seperti stres, konflik, frustrasi, depresi. Di Amerika, angka kematian karena bunuh diri diperkirakan mencapai 20-35 persen akibat depresi berat. Depresi bisa timbul karena ketidakmampuan pelaku bunuh diri menanggung beban permasalahan hidup yang dialami, putus asa dan kehilangan makna hidup.

Namun tidak semua bunuh diri terkait dengan faktor di atas. Sejumlah orang yang menderita penyakit fisik (misal tak kunjung sembuh, akut dll) yang sangat menyakitkan dan tanpa harapan untuk sembuh, mencari pelarian dengan cara mengakhiri hidup mereka.

Bunuh diri semacam ini disebut oleh Jeffrey (2005) sebagai “bunuh diri rasional”, karena didasarkan keputusan/keyakinan rasional oleh yang bersangkutan bahwa hidup tidak lagi berharga untuk dijalani dengan adanya penderitaan/penyakit tersebut.

Kemudian dalam beberapa kasus bunuh diri, juga bisa disebabkan oleh faktor atau dimotivasi faktor keyakinan agama dan politik tertentu yang tertanam kuat pada diri pelaku bunuh diri. Seperti pada kasus terorisme, orang yang melakukan bom bunuh diri memiliki keyakinan bahwa tindakannya adalah tindakan mulia dan bisa masuk surga.

Kalau lingkungan sosial yang mempertunjukkan cara penyelesaian masalah dengan cara bunuh diri sebagai jalan terbaik bisa terbebas dari masalah hidup yang berat, maka sangat mungkin itu bisa dipelajari ditiru oleh orang yang sedang menghadapi masalah berat dalam hidupnya.

Sebuah artikel yang pernah saya baca di kora bahwa, di Gunung Kidul Yogyakarta, sebagian masyarakatnya ada yang menganut kepercayaan bahwa jika mendapat “pulung” (isyarat dari dunia ghaib) untuk melakukan bunuh diri, maka yang bersangkutan harus melakukannya. Isyarat dari ghaib secara fisik ditandai oleh adanya sinar yang datang ke rumah seseorang dan yang bersangkutan memperoleh mimpi yang berupa perintah untuk melakukan bunuh diri.

Banyaknya Kasus bunuh diri yang terjadi di tanah air dewasa ini, menjadi gambaran kian merosotnya kesehatan mental masyarakat Indonesia. Oleh karena itu diperlukan peran berbagai pihak untuk menangani persoalan ini.

Mari sahabat semua untuk meningkatkan kepedulian kita pada lingkungan sekitar, memberi dukungan sosial terhadap teman atau orang-orang yang membutuhkan. Ketika ada teman atau saudara ingin “curhat”, sebaiknya ditanggapi serius dan sebisa mungkin memberikan solusi, atau minimal menjadi pendengar yang baik, sehingaa dapat menjadi obat stres yang cukup efektif.

“Pasalnya, orang yang depresi tidak ada hubungannya dengan orang beriman atau tidak. Namun lebih pada kondisi gangguan sakit mentalnya. Karena itu, kita harus peka melihat hal itu”.

Wallahu’alam bissawab

Posted on 4 Februari 2010, in Opini and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: