PENAWAR RASA SEPI



Ada yang datang diantara yang pergi, seperti halnya ada yang sepi diantara yang ramai. Demikian sepotong ungkapan yang mengena untuk saya disaat menulis artikel ini.
Rasa sepi dan sunyi itu rasanya muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Aktifitas siswa dan rekan-rekan guru lainnya yang juga sementara mempersiapkan segala sesuatunya untuk Ulangan semester minggu depan menyebabkan lingkungan kerja yang super sibuk, sehingga aktifitas ngobrol menjelang pergantian jam pelajaran seperti biasanya nyaris terlupakan, ditambah lagi dengan pemadaman listrik yang berlangsung sejak pagi, lengkap sudah rasa sepi ini menggelayut.

Dengan menggunakan Safety Power dari UPS Lab.Komputer, saya berupaya merampungkan administrasi ulangan semester yang tersisa, dan menulis postingan ini tentunya.

Saya yakin bahwa rasa sepi ini muncul justru akibat beban kerja yang menumpuk hingga menimbulkan beban mental yang mengarah ke stress. Tapi semoga hal ini tidak terjadi dalam diri saya. Sebab dari apa yang pernah saya baca bahwa stres yang berkepanjangan membuat mental dan perasaan seseorang semakin hampa dan sunyi. dan biasanya meskipun kita berusaha tampil maksimal, justru akan menyeret kita pada kesepian yang berkepanjangan.

Dari majalah Hidayatullah saya baca sebuah artikel bahwa : Kesepian ternyata mirip wabah flu, bisa menyebar dalam sekelompok orang di dekatnya. Begitulah menurut suatu penelitian terbaru. Kalau flu bisa tersebar lewat berjabat tangan, orang bisa “terjangkit” kesepian melalui interaksi yang negatif.

Intinya, seseorang yang kesepian akan kehilangan hubungan dengan orang lain dan orang lain itu juga bisa terputus hubungannya dengan orang-orang lain lagi. Akhirnya, orang-orang yang hubungannya terputus itu berisiko menjadi golongan yang terasing dari kelompok sosial.

“Seseorang yang kesepian mengantisipasi reaksi negatif dari orang lain, dan akhirnya mereka memang mendapatkan reaksi negatif itu dalam lingkungan. Sebagian karena mereka mengantisipasinya dan sebagian karena mereka sendiri yang mengundang reaksi itu.

Temuan ini, yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Social Psychology edisi Desember mengindikasikan bahwa kesepian bukanlah bagian dari sifat, seperti dalam ungkapan “orang itu sifatnya penyendiri”. Namun, kesepian merupakan suatu keadaan seperti kelaparan.

“Pada dasarnya, kita adalah makhluk sosial. Maka dari itu, kita perlu orang lain untuk bekerja sama,”. Karena itu, kesepian mungkin bisa saja merupakan evolusi dari perasaan bahwa ada orang yang mengucilkan Anda.

Di tengah rasa sepi itu,… saya mendapatkan penawarnya berupa Award persahabatan dari sahabat jagat blogosphere, masing-masing :

Award Golden Shower dari Mbak Elly Suryani


Award Kasih dari Mas Goen


Award SpongeBob dari Vie_Three

Award Heartfelt dari Aditya

Award Keep Smiley dari -gek- Angel on Earth

Award dari Yunna Bluewings


Award dari Anindyarahadi

Terima kasih atas dedikasi Award ini. Dan selanjutnya semua Award ini saya persembahkan buat :

Moga sudi menerimanya…… Salam sukses selalu……

Posted on 10 Desember 2009, in Tak Berkategori and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: