HILANGNYA RASA CEMBURU


Cemburu itu indah, bahkan ia ‘penyedap’.
Apalagi dalam menjaga kehormatan dan harga diri,
Malah sangat dianjurkan.
Hilangnya rasa cemburu terhadap satu hal ini,
Justru awal malapetaka.
Benarkah?

Orang yang mulia harga dirinya tentu selalu berusaha memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk membela kehormatannya. Orang yang memiliki harga diri akan berusaha membungkam mulut-mulut yang mengeluarkan komentar-komentar negatif terhadap dirinya. Orang yang bijaksana ialah orang yang menjaga kehormatannya dengan harta yang dimiliki.

Tak sebatas itu saja, seseorang yang memiliki kecemburuan mempertaruhkan hidupnya, mengerahkan segala yang ia miliki dan berjuang hidup mati bilamana kehormatan dirinya dikotori. Bagi orang mulia lebih baik mati berkalang tanah dan bersimbah darah demi menyelamatkan akal waras dan menjaga kehormatan diri.

Sayang seribu kali sayang, kehidupan yang serba modern sekarang ini justru banyak menghilangkan kehormatan kita, membunuh rasa cemburu kita, bahkan sarana-sarana maksiat dan perbuatan keji bertebaran disana-sini disebarkan melalui berbagai media. Seakan sudah lumrah terlihat seorang pemuda dan pemudi tanpa malu dan sungkam melalukan perbuatan keji, perbuatan yang mendorong dan membangkitkan syahwat. Tanpa rasa malu mereka melakukan perbuatan nista yang disaksikan oleh ribuan pasang mata…..!

Demikianlah semuanya serba terbalik, sehingga sebagian masyarakat bahkan individu dan keluarga menjadikan orang-orang hina dan gila sebagai teladan dan ikutan mereka. Pikiran, perilaku dan tindak tanduk orang-orang hina seperti itu mereka jadikan sebagai kebanggaan dan standar kejantanan,….. la haula wa laa quwwata illa billahi…….

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kehormatan diri dan mensucikan pendengaran kita.

Apakah api kecemburuan sudah padam?
Apakah air kecemburuan sudah surut ?
Apakah cahaya kecemburuan sudah memudar ?
Sudah hilangkah rasa cemburu dalam diri mereka ?
Tegakah mereka membiarkan isteri dan keluarga dalam lembah kenistaan ?
Tidak tahu lagi kepada siapakah kita mengadu…..

Jika perhatikan tulisan-tulisan yang sesat serta film-film vulgar saling bahu membahu dalam usahanya merobek hijab kesucian diri. Lalu saling berlomba-lomba dan berpacu dalam melukiskan perbuatan maksiat dan aurat terlarang. Sehingga tabirpun tersingkap membelalakkan mata anak-anak kecil sebelum mereka beranjak dewasa.

Malapetaka apakah ini?
Mungkinkah orang-orang yang bijaksana dan wanita-wanita yang menjaga kesucian diri membiarkan diri mereka, anak-anak mereka tenggelam dalam buih kebinasaan hasil produksi teknologi canggih dan hasil kreasi peradaban modern?

Kemanakah sirnanya rasa malu itu?
Kemanakah menghilangnya kehormatan diri?
Kemanakah perginya rasa cemburu dari rumah-rumah yang menyediakan fasilitas-fasilitas pengundang kehancuran bagi generasinya? Menjerumuskan mereka ke dalam kubangan kebinasaan! Memasukkan ke dalamnya berbagai katalisator kemungkaran yang menyeret mereka kepada perbuatan dosa dan keji?

Berapa banyak nilai-nilai keutamaan memproteksi pemuda-pemudi sehingga mereka tumbuh menjadi generasi muda yang shalih. Berapa banyak pula nilai-nilai kejahatan meminta korban, menyeret mereka ke dalam jurang kebinasaan, sehingga jadilah mereka orang-orang yang rugi.

Dalam naungan nilai-nilai keutamaan itu terdapat kesucian diri dan ketentraman. Dan dalam lubang kejahatan itu terdapat kehinaan dan kerendahan. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya. Jika pemimpin lemah, maka rusaklah seluruh rakyatnya. Jika rakyat sudah rusak, mereka akan kehilangan nilai keutamaan dan kesucian diri. Mereka rela menjual kehormatan, mereka ibarat air dalam comberan, anjing mana saja dapat minum disitu dan sampah apa saja yang dibuang di situ akan mengotorinya.

Marilah semua kita pupuk rasa cemburu kita, karena jika rasa cemburu telah hilang, maka tidak ada satupun yang lebih cemburu kecuali Allah SWT, dan oleh sebab itulah Allah mengharamkan perbuatan keji dan maksiat.

Semoga Allah SWT senantiasa menganugrahkan taufiq dan inayah-Nya kepada kita semua kepada apa-apa yang diridhoi dan dicintai-Nya, memperbaiki keadaan kita semua, dan menyatukan barisan kita di atas landasan kebenaran, Amin.

Dirangkum dari : al-Giratu ’Alal A’raadh,Syaikh Shalih bin Abdullah bin Humaid.

Posted on 29 Juli 2009, in Tak Berkategori and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: