KISAH SEUTAS DASI


Apakah ini? Seutas kain berwarna warni yang tergantung dileher para eksekutif? Ya! betul. Itu Dasi!! Jawaban yang logis yang tentunya diberikan oleh orang normal : itu adalah seutas dasi.

Tetapi orang gila akan mengatakan apa yang dikalungkan dileher itu konyol, selembar kain berwarna tanpa makna yang diikat dengan cara rumit, yang membuat kita sulit bernafas dan menoleh.

Terkadang aku berpikir apa sih gunanya dasi? , sama sekali tidak ada. Ini bahkan bukan lagi sekedar hiasan, karena benda ini sekarang telah menjadi simbol perbudakan, kekuasaan, keangkuhan. Satu-satunya fungsi dasi adalah memberi rasa lega ketika kita pulang kerumah dengan melepaskannya; rasanya seperti terbebas dari sesuatu, meskipun kita sendiri tidak tahu sesuatu itu apa.

Tetapi, apakah rasa lega itu menjadi pengabsah keberadaan dasi? Tidak!! Tetapi jika kutanya kepada orang gila dan orang waras apakah benda ini, orang waras tentu akan menjawab : “Seutas dasi”. Tidak jadi soal siapa yang tepat, yang penting adalah siapa yang benar.

Berikut sedikit penjelasan tentang dasi yang saya kutip disini

Dasi, menurut Asosiasi Aksesori Leher Amerika, punya sejarah panjang yang melilit perkembangannya. Sejak zaman batu pun aksesori di leher dan dada sudah ada, khususnya untuk memberi ciri pada kelompok pria dari strata tinggi.

Malah, pada masa Romawi kuno sudah dipakai kain untuk melindungi leher dan tenggorokan, khususnya oleh para jurubicara. Pada perkembangannya prajurit militer Romawi pun memakainya. Bukti dipakainya aksesori kain leher tampak pada patung batu di makam kuno, Xian, Tiongkok.

Aksesori leher terkenal lainnya muncul di masa Shakespeare (1564 – 1616), yakni “ruff“. Kerah kaku dari kain putih itu bentuknya serupa piringan besar yang melingkari leher. Untuk mempertahankan bentuk, ruff sering dikanji. Lambat laun orang merasa ruff yang bertumpuk-tumpuk hingga mencapai ketebalan beberapa sentimeter mengakibatkan iritasi.

Lahirlah “cravat” pada masa pemerintahan Louis XIV tahun 1660-an. Namun, Kroasia lebih tepat disebut sebagai tanah asal dasi. Bahkan konon kata ini berasal dari nama negara Kroasia dalam bahasa setempat Hrvatska.

Ini sesuai penuturan Francoise Chaile dalam buku La Grande Historie de la Cravate (Flamarion, Paris, 1994). “… Sekitar tahun 1635, sekitar enam ribu prajurit dan ksatria datang ke Paris, yang disewa oleh Louis XIII dan Richelieu. Pakaian tradisional mereka amat menarik. Sehelai sapu tangan diikatkan di leher dengan cara khusus. Sapu tangan itu terbuat dari berbagai kain, dari yang serupa seragam, katun halus, hingga sutera. Gaya unik ini segera ‘menaklukkan Perancis‘. Apalagi cara ini lebih praktis ketimbang kerah kaku. Sapu tangan itu cuma diikat, dengan ujung-ujungnya dibiarkan lepas.

Maka disebutlah sapu tangan itu cravat, artinya “penduduk dari Kroasia”.

Sebagaimana aksesori leher di zaman batu, keindahan cravat dan cara mengikatnya menunjukkan kelas si pemakai. Konon Beau Brummell (1778 – 1840), yang banyak mempengaruhi perkembangan mode, perlu waktu berjam-jam untuk mengikat cravat-nya.

Banyak buku teknik mengikat cravat diterbitkan. Salah satunya menampilkan 32 cara, meski kenyataannya ada lebih dari 100 cara yang resmi dikenal saat itu. Begitupun, ada saja orang yang ingin mengekspresikan kepribadian mereka dengan kreasi sendiri.

Selanjutnya muncul adab mengenakan cravat. Seseorang pantang menyentuh cravat orang lain. Kalau sampai terjadi, tindakan itu bisa berakibat fatal, yakni duel.

Bahkan takhayul pun berkembang di seputaran cravat. Konon saat Napoleon Bonaparte mengenakan cravat hitam yang dililitkan dua kali memutari leher, ia selalu menang perang. Celakanya, saat terjun di Waterloo ia memakai cravat putih. Akibatnya? Ia pun “jatuh”.

Tahun 1860-an cravat dengan ujung yang panjang mulai menyerupai aksesori leher modern alias dasi. Ketika muncul mode kemeja berkerah, dasi disimpulkan di bawah dagu, ujung panjangnya terjuntai di depan kemeja. Sementara dasi berbentuk kupu-kupu baru populer tahun 1890-an.

Dengan kemajuan teknologi, kini dasi jadi makin beragam warna, desain, dan teksturnya. Alhasil, lebih dari 100 juta dasi menyerbu berbagai gerai dasi setiap tahun.

Pada tahun 2002 penyanyi asal Kanada, Avril Lavigne mempopulerkan pemakaian dasi secara casual bagi para remaja wanita.

Berikut adalah berbagai macam motif dasi, bagi yang berminat silahkan pilih sendiri Gratis….. saya juga ngambilnya gratis koq disini

Dasi Supir Taxi

Dasi Rekonstruksi Polisi


Dasi Bartender

Dasi Atlit Pingpong

Dasi Pecandu TTS


Dasi Juragan Es Krim

Dasi Juragan Hot Dog


Dasi Gamer Tetris

Dasi Gamer Space Invader

Dasi Dokter Mata

Dasi Netter



Mari saling ngevote di Top Global Site dengan meng- KLIK DSINI

Iklan

Posted on 26 Juli 2009, in Tak Berkategori and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: