ANIMAL FACE DAN HUMAN FACE DALAM KEHIDUPAN MANUSIA BERAGAMA



Nicollo Machiavelli, mengemukakan bahwa makhluk berakal yang namanya manusia sebenarnya memiliki ‘muka rangkap’, yaitu wajah kemanusiaan dan wajah kebinatangan. Benner nggak yah ? cuman teringat sedikit teori waktu kuliah dulu
Mungkin maksudnya seperti ini , pada saat manusia sadar akan fitrah kemanusiaanya, maka tersorotlah human face yang menyinarkan makna hidup kemasyarakatan yang tentram dan berakal budi yang luhur.

Namun pada saat manusia ingkar dari fitrah kemanusiaannya, maka dominanlah animal face yang menyorotkan nafsu kebinatangan, nafsu angkara murka yang siap menyedot darah manusia, bagaikan vampire dalam film China yang mengintai korbannya di keheningan malam.

Saya teringat sewaktu maen layangan tiba-tiba benangnya putus, layang-layangnya akan terbang terseret kemana sang angin pergi, lantas berantakan sobek menghantam bebatuan yang lancip dan tajam, atau hancur lusuh bila jatuh di lumpu hitam. Mungkin seperti inilah orang-orang yang tak punya pegangan, pengecut yang tak kuasa membedakan yang hak dan yang bathil sebab nilai hak dan bathil dalam citra dirinya telah digalaukan oleh kebimbangan fatal lepas dari kendali kebenaran, lepas dari kendali kosmos beragama.

Mungkin salah satu ciri kalau manusia lepas dari kendali kosmos beragama adalah (ini menurut saya nih) manusia tersebut enggan berpikir tentang Tuhan, lebih-lebih lagi bertafakur dengan ciptaan-ciptaan-Nya. Andai demikian, maka runtuhlah kemanusiaan menjadi kebinatangan, yang tak perlu lagi mengekang nafsu, yang menghalalkan segala cara hidupnya demi melakonkan kebuasan pribadinya.

Ahmad Albar pernah mempopulerkan lagu ’Panggung Sandiwara’,

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah………..

Manusia berada diatas panggung sandiwara, maka pastilah umumnya pandai bersandiwara. Tipe fisik manusia terkadang menipu tatapan kita seperti buah masak yang pahit rasanya. Tak jarang manusia yang sekilas penampilannya sopan santun, lemah lembut, simpatik, ternyata kalbunya dekil (dodol………..).

Tokoh gangster Al Capone, bila kita perhatikan sekilas sosok dan penampilannya, kita tak kan percaya bahwa ia adalah penjahat besar yang tak henti melawan hukum.

Manusia semacam Al Capone tersebut bertebaran di muka bumi yang semakin bergelimang dosa ini, termasuk di pucuk-pucuk pimpinan suatu lembaga / instansi bahkan suatu negara. Yang berkamuflase lewat petatah-petitih yang luhur sambil mereka sendiri tak mencontohkannya.

Kita semua berharap agar manusia semacam Al Capone ini sirnah dari negeri kita yang tercinta ini.

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (Q.S. Al-Anfaal : 22)

Manusia yang berwajah binatang dengan segala nafsunya, atau manusia yang sok berprikemanusiaan namun berjiwa binatang, melangkah dengan penuh ketamakan dan penuh loba. Meskipun menurut Dr. Frans Dahler : antara bintang dan manusia terdapat jurang yang tak terseberangi, paling tidak sejauh menyangkut jiwa manusia itu sendiri.

Namun karena Tuhan memberikan freedom of choice dalam ruang waktu uji kefanaan ini setelah sebelumnya memberikan tuntunan lurus dalam beragama, maka tidak otomatis manusia mesti lebih mulia dari pada binatang. Manusia yang tak berhasil lulus lewat ujian kefanaan bumi, tidak sedikit malah terjerumus ke tahapan yang jauh lebih hina dibanding binatang,. Oleh karena itu, tidak sepantasnya manusia terlampau menyombongkan tingkat fitran kemuliaannya, sebab tingkat kemuliaan itu mesti diperjuangkan terlebih dahulu, dalam arti bahwa kemulian manusia itu bukanlah sekedar hadiah ’gratis’ dari Sang Mahamulia Tuhan Semesta Alam.

Oleh karena itu, Sebagai muslim, marilah kita menatap masa depan dengan penuh optimisme dan keceriaan hidup, marilah kita kembali kepada kesadaran yang hakiki bahwa hidup di bumi ini hanyalah ’proses uji’ guna mencapai kebahagiaan yang lebih hakiki di kualitas ruang waktu yang baqa.

Agar lulus dalam proses uji ini, marilah bersama kita amalkan ajaran Islam secara utuh sebab hanya lewat keutuhan Islamlah (sebagai agama fitrah), nilai manusia yang sejati, akan terwedar mulia, yang akan memupus animal faca manusia maupun tabiat keserigalaam manusia dari permukaan planet Bumi yang amat indah ini.

Posted on 27 Mei 2009, in Tak Berkategori and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: