Déjà vu ; SEBUAH CATATAN


Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan seorang tamu dari Jakarta. Seorang sahabat lama yang baru kali ini bertemu langsung dimana sebelumnya kami hanya akrab melalui sahabat pena sejak kami sama2 masih berstatus siswa SMP.
Kedatangannya ke Sulsel adalah untuk berwisata ke Tanah Toraja yang menurut penuturan temannya dalam waktu 2 atau 3 hari ini akan diadakan pesta adat kematian Rambu solo. Mereka berdua meminta saya untuk menjadi guide, dalam hati aku berpikir kebeneran nih,… aku juga belon pernah melihat langsung acara seperti itu.


Saya tidak akan menceritakan bagaimana perjalanan saya sampai tiba di Toraja, namun saya akan jelaskan tentang pesta adat Rambu Solo dan fenomena yang terjadi dalam diri saya ketika berada disana.

Bangga rasanya berada di tengah-tengah tamu yang mayoritas orang bule melihat tontonan budaya dan adat yang sedikit`aneh`……kenapa saya katakan `aneh` coba anda bayangkan acara pesta Rambu solo adalah acara kematian, dimana yang punya hajat harus merogoh kocek sampai milyaran rupiah , bukannya beban kalo tiap tahun keluarga ada yang mati?bisa bangkrut kan.!!

Bagi suku Toraja(sulawesi selatan,indonesia), Rambu Solo` adalah upacara untuk memakamkan leluhur atau orang tua tercinta. Tradisi leluhur ini sekaligus menjadi perekat kekerabatan masyarakat Toraja terhadap tanah kelahiran nenek moyang mereka.

Adapun, orang Toraja meyakini, seorang bangsawan akan mendapatkan tempat yang terhormat dalam strata sosial masyarakat. Mereka selalu menjunjung tinggi orang yang berstatus bangsawan untuk dihormati serta dicintai layaknya seorang raja. Pandangan semacam inilah yang acap ditemui di dalam masyarakat adat Toraja hingga sekarang.

Saya tidak akan menjelaskan tentang bagaimana prosesi Rambu solo itu sampai selesai, namun kalau sobat blogger ingin mengetahui lebih lanjut, silahkan klik disini.

Yang saya akan bahas lebih jauh adalah fenomena yang terjadi dalam diri saya selama dua hari berada disana.

Pada waktu pemotongan kerbau yang berjumlah lebih 40 ekor saya merasakan bahwa sebelumnya saya pernah hadir ditempat ini dalam situasi yang persis sama yang saya rasakan saat itu. Namun perasaan ini saya simpan dan setelah tiba di penginapan saya ungkap kepada teman saya itu, yang memang berprofesi sebagai seorang psikolog (seperti Diajeng dari Dublin nih).

Ternyata saya mengalami suatu fenomena yang disebut Déjà vu. Saya pernah mendengar istilah itu,……. dan setelah tiba di rumah, saya langsung browsing istilah itu dan saya menemukan beberapa penjelasan, namun rasa tidak puas menuntun saya untuk pergi ke sebuah Toko Buku dan mencari Judul yang direkomendasikan oleh kedua sahabat saya.

Dalam buku “Otak Sejuta Gigabyte (Eric Jensen dan Karen Markowittz)” penjelasannya saya rangkum sebagai berikut :

Kata Déjà vu berasal dari bahasa Prancis yang artinya ’pernah melihat’. Kata ini pertama kali digunakan pada akhir abad kesembilan belas, dan dipakai untuk menggambarkan suatu fenomena yang paling membingungkan yang terkait dengan ingatan, yaitu perasaan bahwa seseorang pernah mengalami suatu situasi tertentu pada masa lalu, meskipun orang bersangkutan memiliki ingatan sadar tentang hal tersebut, Déjà vu biasanya terjadi secara spontan, tiba-tiba, dan tanpa ada tanda-tanda terlebih dahulu. Perasaan ini tidak bisa diramalkan, diantisipasi, atau didorong. Suatu ketika, Anda sedang berjalan-jalan di sebuah taman, dan tiba-tiba saja, Anda merasa bahwa anda pernah mengalami hal yang seperti ini sebelumnya. Anda akan bertanya-tanya, mungkinkah Anda sedang memasuki kembali sejumlah stimulus indriawi atau perasaan yang berasal dari mimpi yang terlupakan atau dari kehidupan masa lalu?

Déjà vu menyebabkan seseorang merasa bingung atau khawatir tentang kesehatan mental mereka. Namun, ini bukan sesuatu yang luar biasa, dan bukan juga berarti bahwa anda ’kehilangan akal sehat’. Perasaan mengenal yang tidak bisa dijelaskan disini, kenyataannya mungkin merupakan hasil dari suatu interaksi elektrokimia tertentu di dalam otak anda. Meskipun para ahli psikologi dan ahli ingatan masih belum dapat menyimpulkan sumber Déjà vu, namun para ahli berpendapat bahwa sensasi semacam itu mungkin diaktifkan dibagian penghubung otak yang disebut LOBUS TEMPORIAL.

Bertahun-tahun lamanya, fenomena Déjà vu telah menjadi bahan perdebatan para psikolog dan psikiater. Mereka juga mengamati bahwa sensasi tersebut kerap terjadi setelah seseorang mengalami cedera di bagian lobus temporalis, dan sering dialami oleh penderita epilepsi lobus temporalis. Para ilmuwan saraf kemudian menemukan bahwa sensasi semacam itu bisa dimunculkan pada subjek-subjek yang sehat dengan memberikan stimulus listrik di daerah lobus temporal.

Ada beberapa teori yang menjelaskan hal itu. Beberapa ahli psikologi percaya bahwa Déjà vu seperti ini merupakan akibat dari terpecahnya ingatan, atau kombinasi elemen dari situasi yang sedang berlangsung, yang karena satu alasan telah memicu munculnya suatu pengalaman masa lalu, yang tidak dapat dikenali oleh pikiran yang sadar. Sementara itu, ahli-ahli lain percaya bahwa Déjà vu merupakan suatu penyimpangan proses indriawi, yaitu ketika otak salah menafsirkan suatu kesan yang baru dan menganggapnya sebagai kesan lama yang teringat kembali. Déjà vu pernah dijelaskan sebagai kesadaran ganda, yaitu tiba-tiba kita merasa aneh dengan lingkungan sekitar kita yang membangkitkan sensasi spontan yang menyimpang dan membuat kita merasakannya seperti sebuah ingatan.

Meskipun para ahli belum bisa memastikan apa yang memicu terjadinya Déjà vu, namun kejadian ini memberikan gambaran betapa rumitnya sistem ingatan kita.

Lalu, bagaimana dengan Déjà vu yang saya alami dan juga mungkin pernah dialami oleh banyak orang yang notabene menganggap bahwa dirinya sehat, tanpa menerima stimulus listrik pada otak mereka? Apakah saya sekarang ini Reinkarnasi dari kehidupan sebelumnya?

Saya tunggu komentar dari Blogger sekalian, terutama tentunya Diajeng Dari Dublin

Posted on 11 Mei 2009, in Tak Berkategori and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: