GHIBAH HATI


Imam Syafi’i ra. mengatakan, “Tak ada seorang pun muslim yang terlalu taat dan tak pernah bermaksiat kepada Allah. Tak juga ada seorangpun muslim yang selalu bermaksiat dan tak pernah taat kepada Allah. Barang siapa yang ketaatannya lebih tinggi dibanding kemaksiatannya, ia sudah dikatakan orang adil. Bila keadaan seperti itu dikatakan adil, maka perlakuan adil saudaramu untuk memenuhi hak dirimu itu lebih utama. Dan sebagaimana engkau diwajibkan mengekang lisan dan membicarakan keburukan-keburukan saudaramu, engkau juga wajib mengekang hatimu. Yaitu dengan meninggalkan sikap su’udz dzann (buruk sangka)”


Buruk sangka adalah ghibah hati, dan itu dilarang. Batasannya adalah sedapat mungkin kita tak cenderung menjadikan pekerjaan orang lain pada bentuk perilaku yang cenderung pada kerusakan, selama masih mungkin kita dapat menjadikannya sebagai pekerjaan yang baik. Bila kita telah menyingkap keburukan orang lain dengan keyakinan dan penglihatan yang jelas, maka sedapat mungkin kita dapat menjadikan apa yang kita saksikan itu sebagai satu bentuk pekerjaan yang dilakukan oleh orang tersebut lantaran lupa atau lalai.
Tafarrus (berfirasat) adalah prasangka yang dilandasi oleh suatu tindakan yang pasti dan tak dapat dielakkan. Bila segala sesuatu yang dilandasi oleh keyakinan buruk kita terhadap orang lain saat ia melakukan pekerjaan yang memiliki dua kemungkinan (baik atau buruk), lalu kita lebih cenderung pada prasangka buruk dengan menurunkannya pada bentuk yang lebih hina tanpa ada indikasi khusus tentang hal itu, maka hal itu berarti kita telah melakukan jarimah (kejahatan) lewat bathin, dan itu haram dilakukan sesama mu’min.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas orang mu’min dan orang mu’min lainnya ; darahnya, hartanya, kehormatannya, dan berburuk sangka kepadanya.“(HR. al-hakim)

Dalam sabdanya yang lain, ” jauhilah olehmu sikap buruk sangka, karena buruk sangka itu perkataan yang paling dusta.” (Muttafaq ‘alaih)
Sikap su’udzdzann itu pasti menuntut sikap tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). dan tajassus itu dilarang dalam sabda Rasulullah SAW ; “Janganlah kalian bertahassus (mengintip-intip kesalahan orang), jangan bertajassus (mencari-cari kesalahan orang), jangan saling memutuskan persaudaraan, jangan saling membelakangi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaq ‘alaih)
Sekalipun tampak keburukan seorang muslim, maka kita tetap harus memperhatikan dan mendo’akan orang tersebut dengan kebaikan. Karena do’a kepada orang lain yang melakukan kesalahan, akan membuat syaitan marah dan lari menjauhi kita. Syaitan tak akan menghembuskan bisikan su’udzdzann lagi karena takut hal itu akan membuat syaitan sibuk dengan do’a dan perhatian baik kita. Sekalipun kita mengetahui kesalahan orang lain, sebaiknya nasihatilah ia secara rahasia (tidak dihadapan orang lain). Jangan sampai kita tertipu oleh syaitan yang menyeru untuk berlaku ghibah terhadap kesalahan orang lain. Bila kita menasihati orang lain, sebaiknya kita jangan dalam kondisi senang atas kekurangan orang lain tersebut dan kita mjangan memandangnya dengan pandangan menghina. Marilah kita jadikan tujuan dalam memberikan nasihat adalah semata-mata untuk membersihkan diri dari Kesalahan.

Al-Mutstakhlash fi Tazkiyatil Anfus, Sa’id Hawwa.

Posted on 5 Mei 2009, in Tak Berkategori and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: