CALEG SELEBRITI 2009


Sejumlah caleg berlatar belakang selebriti yakin mampu mengubah wajah DPR yang saat ini terpuruk. Kendati banyak yang meragukan integritas dan kapasitasnya, mereka berkomitmen menjadi wakil rakyat yang bersih serta mampu memberi angin segar dalam kerja legislasi.
Paling tidak ada sekitar 61 orang, atau sekitar 0,6 persen, yang punya latar belakang dunia hiburan. Mereka selebriti yang namanya cukup dikenal khalayak luas. Toh meski kecil, sebenarnya persentase jumlah selebriti yang menjadi caleg meningkat. Pada pemilihan umum tahun 2004 lalu, jumlah artis yang ikut dalam daftar celeg tidak sampai 20-30-an.
Komitmen tersebut diungkapkan Tantowi Yahya dan Rieke Dyah Pitaloka yang tampil sebagai pembicara dalam diskusi bertema Persaingan Menuju Senayan di DPD kemarin.
Rieke yang dicalonkan PDIP dan Tantowi Yahya dari Partai Golkar menyatakan siap memberikan kontribusi positif bila menjadi wakil rakyat. Terutama mengubah image bahwa anggota DPR mudah disuap dan menerima gratifikasi. ”Modal yang paling penting (untuk menjadi anggota dewan, Red) adalah kesiapan mental dan finansial. Dan saya bersyukur dua hal itu sudah terpenuhi,” ujar Tantowi.
Dia memaparkan, keputusannya meninggalkan dunia selebriti yang penuh kemewahan merupakan salah satu pengorbanan besar dalam hidupnya. Karena itu, dia meminta agar para wartawan mencatat komitmennya untuk tidak menerima gratifikasi dalam bentuk apa pun ketika nanti terpilih menjadi wakil rakyat. ”Saya tidak kaya. Tapi, saya merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya rasa, rayuan seperti itu tidak akan membuat saya tergoda,” tegasnya.
Untuk menunjukkan kompetensinya, Tantowi berjanji menolak jika ditempatkan partainya di komisi yang membidangi masalah yang tidak dia kuasai. Caleg yang dipasang dari dapil Sumsel itu berharap ditempatkan di komisi pendidikan, seni, dan budaya. ”Saya ditawari partai ditempatkan di komisi I. Alasannya, saya fasih berbahasa Inggris dan menjabat organisasi persahabatan Amerika-Indonesia selama dua periode. Tapi, saya dengan tegas menolak,” ungkapnya.
Rieke justru menyayangkan stigma buruk yang masih diberikan masyarakat kepada artis saat maju sebagai caleg. Meski belum menunjukkan perannya, sejumlah selebriti yang sudah menjadi anggota DPR terbukti tidak mempunyai catatan buruk. ”Mengapa masyarakat tidak mempertanyakan mereka yang diduga pernah melanggar HAM dan malah mendirikan partai atau maju sebagai calon presiden?” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dia menuturkan, sebagai anggota dewan, seluruh tingkah laku selama melaksanakan tugas kedewanan akan dipertanggungjawabkan secara pribadi. Karena itu, dia berharap masyarakat tidak menggeneralisasi kelakuan buruk anggota DPR.
”Kalau ditanya soal kasus Agus Tjondro, saya dengan tegas akan menolak berbuat seperti itu, meski yang bersangkutan mengaku menerima suap. Tapi, itu sudah berlangsung lama. Seharusnya Mas Agus menolak (uang gratifikasi) sejak awal,” katanya.
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Indonesia Bonie Hargens pesimistis atas harapan perubahan di parlemen. Sebab, berdasar daftar caleg tetap (DCT) yang dikeluarkan KPU, mayoritas orang-orangnya sama. ”Sirkulasi kepemimpinan terseok-seok. Saya sampai bosan melihat DCT,” ujarnya mengkritik.

Sumber : http://www.kendaripos.co.id

Posted on 15 April 2009, in Tak Berkategori and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: